Sambutan Mursyid Am Ikhwanul Muslimin ke-8; Muhammad Badi’ Al-Majid Sami
Makkah, 16-01-2010, 11.50
Penerjemah:Abi ANAS
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah dan selawat serta salam atas Rasulullah, para sahabatnya dan semua yang mengikutinya, wa ba’du
Wahai para hadirin yang mulia…
Ikhwah dan akhawat yang dimuliakan Allah…
Saya dahulukan dengan tahiyah Islam yang mulia:
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Dengan kehendak Allah SWT, saya mengambil tanggungjawab yang besar ini, bukan permintaan dari pribadi saya dan bukan karena saya memiliki keistimewaan dan kelebihan; namun ini merupakan ketentuan yang telah Allah tetapkan untuk saya, dan sebagai tanggungjawab yang saya tidak sanggup memikulnya kecuali tetap tunduk pada-Nya, dengan berharap pertolongan dari Allah, berharap taufik dan hidayah dari-Nya, dan percaya akan bantuan dan keikutsertaan kalian semua; untuk mewujudkan tujuan mulia yang telah kita nadzarkan pada jiwa kita dan bekerja keras untuknya semata-mata kerana Allah SWT.
Ikhwah dan akhawat yang mulia…
- Saya dahulukan ucapan saya dengan memberi penghormatan kepada guru kita, akhina yang mulia, dan mursyid kita yang terhormat Ustadz Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin ketujuh, yang telah memimpin bahtera ini di tengah badai dan ombak yang begitu keras, menghadapi berbagai hambatan dan rintangan dengan gagah berani, dan telah menghadirkan teladan yang baik bagi semua pemimpin dan pejabat dalam sebuah pemerintahan, lembaga dan partai dengan penuh tanggungjawab dan amanah, dan menyerahkan kepemimpinan setelah melewati satu dekade, seakan tidak ada kata dan bahasa yang cocok untuk diungkapkan kecuali luapan kecintaan dan penghargaan yang mendalam kepada mursyid kita, tidak ada kata dapat kami haturkan kecuali: “Jazakallah Khairan wa atsaba bifadhlihi tsawaba shiddiqin” (Semoga Allah memberikan balasan terbaik dan memberikan ganjaran melalui karunia-Nya dengan pahala orang-orang yang shiddiqin).
- Kami sampaikan kepada ikhwah dan akhawat anggota jamaah Ikhwanul Muslimin yang tersebar di seluruh penjuru dunia; betapa kami berharap dan betapa indahnya jika itu terjadi; sekiranya kalian semua berada bersama-sama kami pada peristiwa yang besar ini, kalian berada disisi kami dan bersama kami, namun sekalipun jasad kita tidak bertemu namun ruh-ruh kita tetap bersatu dan berpadu dalam cinta karena Allah, doa kalian akan selalu dibawa oleh para malaikat, dan nasihat dan masukan kalian sangat kami nantikan dan membuat kami bahagia.
- Adapun kepada para ikhwah yang berada dibawah kekuasaan tangan-tangan zhalim dan penindasan, yang menghuni penjara kezhaliman dan penindasan tanpa ada alasan yang benar kecauli hanya kerana mengatakan “bahwa kami beriman Allah”, dan berusaha mengangkat martabat bangsa dan memajukan kehidupan bangsanya; kami sampaikan kepada mereka dengan penuh keikhlasan akan sanjungan dan rasa hormat kami kepada mereka atas kesabaran, ketabahan dan pengorbanan kalian. Dan kami yakin bahwa hal tersebut tidak akan sia-sia, tidak akan hilang dengan hampa, harapan kita kepada Allah sangatlah besar, semoga Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang melakukan kezhaliman, mau kembali pada jalan yang benar. Kami berharap kalian bersama kami untuk membicarakan perjalanan dakwah ini dan mendukung dakwah ini, semoga Allah merahmati dan melindungi kalian semua.
Ikhwah dan akhawat yang mulia…
Sebagaimana yang kalian ketahui bersama, bahwa diantara tujuan utama Ikhwanul Muslimin adalah melakukan reformasi menyeluruh dan integral, yang mencakup segala kondisi yang terjadi saat ini dengan melakukan islah (perbaikan) dan perubahan.
إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْأِصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah”. (Huud:88)
Dan melalui kerjasama dengan berbagai kekuatan umat yang bersih, bersama para pemilik semangat yang tinggi dan tulus dari para pecinta agama dan negaranya.
Ikhwanul Muslimin percaya bahwa Islam yang mulia yang telah Allah letakkan di dalamnya semua asas yang sepadan untuk kesejahteraan hidup umat, kebangkitan dan kebahagiaannya; karena itu, Islam mereka jadikan sebagai sumber rujukan dan titik tolak menuju terwujudnya perbaikan, yang dimulai dari individu melalui proses tarbiyah dan melatih disiplin diri, lalu diikuti dengan pembentukan keluarga dan masyarakat muslim dengan meningkatkan performanya dan menghilangkan berbagai bentuk kezhaliman di dalamnya, berusaha secara kontinyu untuk memerdekakan negara dari segala bentuk penguasaan asing atau hegemoni intelektual, spiritual dan budaya serta dari penjajahan ekonomi, politik dan ketenteraan, hingga pada akihrnya membawa negara ke arah kemajuan, kemakmuran dan kesejahtaraan, dengan meletakkan posisinya yang sesuai di persada dunia.
Dan diantara hasil dari pemahaman Islam yang komprehensif ini, Ikhwanul Muslimin dianggap sebagai pergerakan dakwah yang memiliki karakter;
- Dakwah salafiyah (penerus dakwah salafussalih),
- Thariqah sunniyyah (pengamal sunnah),
- Haqiqat sufiyah (realitas sufiyyah),
- Hai’ah siyasiyah (gerakan politik),
- Jamaah riyadhiyyah (kelompok olah raga),
- Rabitah ilmiyyah thaqafiyyah (persatuan kebudayaan dan keilmuan)
- Syirkah iqtisodiyyah (syarikat perekonomian)
- Dan fikrah ijtima’iyyah (idealisme sosial),
sebagaimana yang telah disebut dalam Al-Quran:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (Al-Qashash:77).
Ikhwanul Muslimin memahami betul bahwa Al-Quran Al-Karim dan Sunnah yang shahihah telah merangkum semua peraturan dan berbagai perkara, dan umat dapat mengambilnya sebagai cara yang terbaik untuknya berdasarkan peraturan ini baik sebagai alternatif yang beragam dan pilihan fikih yang boleh berubah mengikuti adat, kebiasaan, masa dan tempat.
Ikhwah dan akhawat yang mulia…
Walaupun ideologi, misi dan tujuan kita adalah adalah jelas; banyak pihak mencoba menggambarkan tentang kita dengan gambaran yang berbeda, meletakkan julukan kepada kita yang berbeda dan tidak sesuai dengan misi dan tujuan kita; oleh kerana itu, kami selalu memperkenalkan kembali diri kami, prinsip dan pendirian serta sikap kami terhadap isu yang menyebar sehingga tampak jelas akan kebenaran yang sesungguhnya untuk semua kalangan.
Saya ingin menyatakan kepada mereka yang mendukung kesatuan jamaah dan keteguhan barisannya: bahwa mereka yang bekerja untuk Tuhan mereka, agama dan negara dengan penuh keikhlasan tidak mungkin terbentuk kecuali dalam satu barisan, walaupun memiliki perbedaan pandangan, dan beragam ijtihad. Ikhwan tidak mengenal hakikat mereka yang mengatakan bahwa perbedaan pandangan dapat menyebabkan perpecahan, merusak hubungan kasih sayang atau memberikan pengaruh akan kemurnian ukhuwwah, padahal kami telah bermuahadah dan berbaiat dihadapan Allah SWT untuk bekerja keras dijalan Allah dalam satu barisan seperti sebuah bangunan yang tersusun rapi dan kuat.
Ikhwanul Muslimin selalu bekerja dengan penuh cinta dan ukhuwah berdasarkan peraturan dan disiplin serta kaidah-kaidah yang munazham (diataur) untuk bekerja secara berjamaah, yang tentunya senantiasa dapat diperbaharui dan diperbaiki jika terdapat kekeliruan atau kekurangan, dan memiliki fleksebilitas tanpa melanggar prinsip-prinsip yang asasi dan tidak bertentangan dengan tsawabit. Dan dalam hal ini Ikhwanul Muslimin senantiasa menerima, masukan nasihat dan pandangan dari semua pihak serta mengambil faedah dan hikmah dari berbagai kalangan, jargon yang mereka ikuti adalah pepatah
رَحِمَ اللهُ امْرَءًا أَهْدَى إليَّ عُيُوْبِي
”semoga Allah merahmati mereka yang menunjukkan kekurangan saya”.
Ikhwah dan akhawat yang mulia…
Disini kami ingin menegaskan beberapa perkara berikut:
• Kami adalah salah jamaatun minal muslimin (salah satu Jamaah dari umat Islam) dan bukan Jamaatul Muslimin, tidak seperti yang dilontarkan oleh orang-orang yang tidak mengenal dakwah ikhwan, kerana Islam sangatlah besar untuk bisa dimonopoli oleh satu kelompok. Dan Alhamdulillah berkat karunia Allah, Ikhwanul Muslimin mendapatkan pengakuan ditengah masyarakat dan sangat populer diberbagai belahan dunia; terutama negara Arab dan negara Islam; karena dakwah yang ditebarkan adalah dakwah yang moderat yang selalu bersumberkan dari Al-Qur’an dan Sunnah.
• Bahwa dakwah dan pergerakan kami adalah merupakan rangkaian yang memiliki keterkaitan dan kesinambungan, dibangun dalam rangka saling bersandar antara satu dengan yang lainnya. Motto kami adalah seperti yang disebutkan dalam Qur’an:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْأِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ آمَنُوا
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 10)
• Bahwa kami percaya dan meyakini adanya tahapan dalam melakukan reformasi, dan hal tersebut tidak dapat dicapai kecuali dengan cara damai dan konstitusional yang didasarkan pada dialog, persuasi dan tidak ada paksaan; karena itu mereka menolak akan kekerasan dan mengutuk semua bentuk kekerasan baik yang dilakukan oleh pemerintah atau perorangan, kelompok atau lembaga.
• Ikhwanul Muslimin memandang bahwa sistem undang-undang harus mampu memberi ruang akan kebebasan individu, syura (atau demokrasi), mendapatkan kedaulatan kuasa dari suara rakyat, meregulasi kekuasaan dan pemisahan antaranya, tidak condong pada yang lain sebagai alternative. Kerana itulah, melalui titik tolak ini, Ikhwanul Muslimin ikut serta dan aktif dalam pemilihan umum, dan menuntut adanya reformasi birokrasi dan kekuasaan dengan cara dan sarana damai dan aman, diantaranya adalah melalaui mimbar parlemen, kerja swasta, dan menganggap itu semua sebagai satu kewajiban sesuai dengan pemahaman mereka terhadap agama dan ketulusan mereka dalam mengabdi terhadap Negara mereka sendiri.
• Adapun berkenaan dengan sikap kami terhadap rejim di negeri kami; bahwa Ikhwanul Muslimin selamanya tidak akan menjadi penentang rezim yang berkuasa, meskipun sebagian pemerintah selalu melakukan diskriminasi terhadap mereka, menyita harta dan mata pencaharian mereka dan terus melakukan penangkapan terhadap jiwa mereka, namun Ikhwanul Muslimin juga tidak akan pernah ragu untuk mengungkap korupsi dan kerusakan yang terjadi di segala bidang, tidak akan pernah terlambat dalam memberikan saran dan nasihat, memberikan kritikan dan saran untuk keluar dari krisis yang terjadi bertubi-tubi terhadap bangsa dan negara mereka, dan berusaha membina putra dan putri bangsa untuk memiliki moralitas dan kebajikan serta bermanfaat bagi orang lain, dan semua ini adalah untuk kepentingan tanah air, warga dan institusi negara.
• Ikhwanul Muslimin menegaskan bahwa prinsip pendirian mereka terhadap pemerintah adalah untuk mendukung yang baik dan menolak serta menentang yang buruk dan jahat, karena itulah pada saat mereka menentang sesuatu tidak dilakukan sekedar melakukan penentangan yang buta.
• Adapun saudara kami yang berasal dari kalangan kristen baik di dunia Arab maupun dunia Islam; sikap kami terhadap mereka sangat jelas, bahwa mereka adalah rekan kami dalam memajukan dan membangun peradaban bangsa, sahabat kami dalam mempertahankannya, teman karib kami dalam pembangunan, penumbuhan dan kebangkitannya, karena berbuat baik dan bekerjasama dengan mereka adalah satu kewajiban dalam Islam.
لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“ Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil”. (al-Mumtahanah: 8).
• Ikhwanul Muslimin berpandagan bahwa kerakyatan dalam suatu negara adalah berdasarkan kerjasama yang sempurna dan persamaan dalam hak dan kewajiban, kecuali dalam hal pribadi, yang mana mengikuti kepercayaan dan cara masing-masing.
• Dalam kesempatan ini; Ikhwanul Muslimin menolak dengan keras dan mengutuk segala bentuk keganasan dan kekerasan etnis yang terjadi silih berganti belakangan ini, dan mereka juga tidak ragu-ragu dalam menyatakan penolakannya setiap saat terhadap peristiwa yang menyakitkan ini. Karena warga yang menganut agama kristen bersama umat Islam adalah satu komunitas dari sisi sosial, budaya dan peradaban, yang menyatu benang-benangnya dan berpadu ragamnya serta kokoh anasirnya sepanjang zaman dan generasi, sebagaimana mereka juga menyeru untuk mencari penyebab krisis yang terjadi secara gamblang dan jelas, serta berusaha memberikan solusi dalam rangka keluar dari bebragai kondisi ini serta mengembalikan negara menjadi satu kesatuan yang sehat dan prima.
• Berkenaan dengan isu wanita; Ikhwanul Muslimin selama ini telah menjelaskan bahwa jamaah selalu memperjuangkan hak-hak wanita dalam bidang politik, ekonomi dan sosial. ”karena wanita bagian dari laki-laki”. Dan kami menyeru kepada seluruh wanita muslimah untuk memainkan perannya secara umum, tidak menjauh dari masyarakat dan permasalahan umum untuk kebaikan bangsa Arab dan umat Islam.
• Syura (atau demokrasi) adalah wasilah asasi kami, kami bersungguh-sungguh melaksanakannya dan mendukung keberadaannya. Semua institusi dalam pergerakan ini meletakkan syura dan demokrasi sebagai asasnya; bermula dari majelis idarah (tata usaha ) bangsa hingga Maktab Irsyad umum. Ikhwanul Muslimin menegaskan bahwa syura atau demokrasi pada intinya menghormati pandangan pihak lain, dan komitmen dengan pendapat mayoritas yang dijadikan sebagai keputusan untuk semua.
• Berkaitan dengan kekuatan Islam, kelompok, Negara dan partai politik, intelektual dan elit budaya; Ikhwanul Muslimin percaya secara penuh bahwa seluruhnya harus mengambil peran dalam suatu kebangkitan, pembangunan dan reformasi, dan mereka juga harus membuka tangan mereka untuk semua kalangan, dan menolak peminggiran (pengecualian) individu, lembaga atau kelompok dari perannya masing-masing, Mereka menerima adanya multi partai dan kewajiban memberikan kebebasan dalam membentuk partai tanpa ada kekangan dan selama sesuai dengan konstitusi, begitupula mereka percaya adanya masa peralihan kekuasaan melalui pemilu yang bebas dan bersih, karena umat adalah ujung tombak kekuasaan, dan perbaikannya adalah tanggung jawab kita semua tanpa ada pengebirian dan pengecualian.
• Ikhwanul Muslimin meletakkan isu Palestina sebagai prioritas utama dalam berbagai sudut pandangannya dan menganggap isu ini sebagai utaa dan terbesar bagi umat yang harus segera diselesaikan. Dan bumi Palestina dengan kesuciannya dan kedudukan Masjid Al-Aqsa di hatiumat merupakan tanah Arab dan Islam, dan harus memiliki kesungguhan dalam membela isu ini; sehingga menjadi permasalahan pemerintah dan bangsa sehingga bumi Palestina dapat merdeka dan terwujud harapannya. Insya Allah.
• Ikhwanul Muslimin selalu berada disisi umat Islam dan bangsa Arab dalam menyokong dan memberikan dukungan terhadap permasalahan yang sedang dihadapi dan bersikap secara moderat, bahkan mereka tidak ragu-ragu dalam menyampaikan nasihat kepada semua pemerintah dan institusi Arab atau Islam baik dalam bentuk yang resmi (formal) maupun tidak resmi (non formal). Mereka juga tidak pernah berhenti untuk berkorban demi kemaslahatan umat ketika diperlukan. Mereka juga menyeru negara Arab dan Islam untuk bersatu dan bekerjasama menentang proyek imperialisme, hegemoni Barat dan Zionis, sebagaimana mereka juga menyeru pada kesatuan umat dan menyelesaikan permasalahan dan pertikaian internal di antara negara Arab dan Islam melalui dialog dan bukan dengan senjata. Karena itu kami mengingatkan saudara kami yang ada di Yaman, Sudan, Somalia, Iraq, Lebanon, Afganistan dan Pakistan, bahwa satu-satunya jalan untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan rakyat mereka adalah dengan dialog dan menyepakati bersama jalan yang terbaik untuk bangsa yang mulia ini.
• Adapun sikap kami terhadap sistem global yang dikuasai oleh Amerika dan Barat adalah sangat jelas. Kami tidak bermusuhan dengan negara-negara barat, tetapi kami menentang sistem ini yang mana mereka menuntut adanya demokrasi dan kebebasan untuk rakyatnya namun menafikannya buat kami dan bangsa kami. Negara-negara barat menggunakan kekuatan ekonominya untuk mempengaruhi dan menguasai negara kami dan kebijakan-kebijakannya. Sebagaimana mereka juga menanam dan melindungi Negara Zionis untuk menjadi duri di tubuh bangsa Arab dan umat Islam, memperlakukan isu dan permasalahan kami dengan standar ganda, bahkan berusaha menghancurkan nilai-nilai, budaya dan identitas Islam dengan nilai-nilai barat, begitu pula berusaha menghancurkan dan merusak nilai keimanan dan akhlak di negara kami. Karena itu, Kami menyeru kepada seluruh umat untuk bersatu dalam menghadapi proyek Zionis dan Barat, mengatasi segala perbedaan dan perselisihan, menghentikan kecendrungan fanatisme kelompok, dan menolak segala bentuk agresi atau penjajahan terhadap negara Arab atau Islam, mengoptimalkan perjanjian pertahanan bersama dalam menghadapi kekuatan zhalim dan kesewang-wenangan global.
• Kami menuntut kepada rezim global ini untuk komitmen dengan keadilan dan kebenaran dan menghormati dan menghargai nilai-nilai kebebasan dan keadilan di berbagai penjuru dunia, karena hal tersebut merupakan jaminan bagi terwujudnya keamanan dunia dan kerjasama di antara bangsa-bangsa dunia serta menyebarkan nilai kebebasan dan keadilan di seluruh dunia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits nabi saw:
كُلُّكُمْ بَنُو آدَمَ، وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ
”Kalian semua adalah anak cucu Nabi Adam, dan Adam dicipta dari tanah” (Al-Bazzar).
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
”Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari lelaki dan perempuan dan Kami telah menjadikan kalian berbagai bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling berkenalan. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang bertakwa”. (Al-Hujurat:13)
dalam hadits lain juga disebutkan:
فَلَيْسَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ فَضْلٌ، وَلا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ فَضْلٌ، وَلا لأَسْوَدَ عَلَى أَبْيَضٍ وَلا لأَبْيَضَ عَلَى أَسْوَدَ فَضْلٌ إِلا بِالتَّقْوَى
”Bangsa Arab tidaklah lebih mulia dari yang lain (yang bukan arab) dan begitu juga sebaliknya, orang yang berkulit hitam tidaklah lebih mulia dari yang berkulit putih dan begitu juga sebaliknya, kecuali dalam karena ketaqwaannya” (At-Tabarani).
Ikhwah dan akhawat yang mulia…
Sesungguhnya kami memandang masa depan dengan penuh harapan dan kewaspadaan…
Bahwa Harapan adalah slogan bagi orang beriman yang jujur. Dan ia merupakan bekalan kami dalam mengarungi perjalanan yang panjang ini, karena itu beramal merupakan segenap harapan kami. berkasih sayang dan ukhuwwah merupakan wasilah ikhwan untuk menghadapi kesusahan. Sementara berputus asa bukanlah sifat orang yang beriman sebagaimana berdiam diri dan bermalas malasan bukanlah karakter seorang mujahid.
Adapun kewaspadaan adalah sarana untuk menyatukan kami bersama rakyat Mesir, bangsa Arab dan umat Islam, bahkan umat manusia secara keseluruhannya, guna menjelangi masa depan yang lebih baik pada saat dunia ini sedang menghadapi ancaman konflik, wabah virus dan penyakit, dan para saintis merasa prihatin terhadap dunia karena adanya pemanasan global, kemarau dan kering. Yang membawa dunia pada kondisi yang memilukan, berbagai manuver yang salah kaprah yang dilakukan oleh negara super power yang menginginkan adanay individu menguasai manusia lainnya, sehingga hasilnya adalah lautan darah dan jasad yang bergelimpangan di sebagian belahan dunia Islam seperti Afganistan, Iraq, Sudan, Somalia, Lebanon dan Palestina di tambah dengan krisis ekonomi yang tidak putus-putusnya, pada saat ingin menggapai solusi datang lagi permasalahan lain dan mencekiknya; sehingga manusia terus menjalani hidup dalam kerisauan dan rasa cemas terhadap masa depan mereka dan masa depan anak-anak mereka, dan mereka merasa bahwa dibalik kondisi seperti itu ada konspiratornya dan dibalik berbagai kejadian ini ada yang menciptakan dan membuat berbagai krisis.
Ikhwah dan akhawat yang mulia…
Rakyat Mesir, bangsa Arab serta umat Islam bahkan umat manusia seluruhnya meletakkan harapan yang sangat besar kepada kalian, dan kalian –dengan izin Allah- memiliki kemampuan untuk membawa tanggungjawab yang besar ini, mampu menanggung beban yang penuh resiko ini. Bahwa sejarah telah membuktikan berulang kali akan kesabaran, ketabahan, ketetapan pendirian, kerja dan produktivitas kalian walaupun banyak kabar angin yang tersebar tentang kalian, syubhat atas kalian serta kondisi pahit yang selalu mengiringi kalian.
Hadirkanlah kepada dunia akan Islam yang sebenarnya… Islam yang membawa toleransi dan kesederhanaan, Islam yang menghormati keragaman dunia secara keseluruhan… Islam yang menggalakkan untuk saling mengenal dan bekerjasama untuk kebaikan seluruh manusia.
Laluilah semua jalan dan gunakan semua wasilah (sarana) dan wasait (media) untuk menyampaikan dakwah Islam kepada manusia dipenjuru dunia…dan bersungguh-sungguhlah untuk menggapai kebenaran;
وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
”Dan hadapilah mereka dengan perjuangan yang besar dan bersungguh-sungguh” (al-Furqan: 52).
Yaitu jihad dalam dakwah dan memberikan penjelasan… dengan pena dan lisan… dengan berbagai macam cara dan seni yang jitu dan sarana yang bersih.. dengan berbagai cara untuk menjelaskan hakikat Islam dan menolak syubhat atas kalian.. jadikanlah slogan kalian pada firman Allah:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (An-Nahl:125)
Dan firman Allah:
وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ
“Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka”. (Al-Ankabut:46)
Didiklah diri kalian dengan nilai dan etika yang murni dan mulia… dan akhlak yang lurus, dan jadilah contoh dan teladan bagi umat manusia. Pimpinlah mereka ke jalan Allah dengan menjadi teladan yang baik dan dengan akhlak yang lurus. bekerjasamalah dengan semua pihak dalam membentuk peribadi dan menyempurnakan akhlak yang mulia.
Bekerjasamalah dengan mereka yang bekerja untuk kebaikan dan taqwa, bahkan bekerjasamalah dengan seluruh orang beriman di seluruh dunia untuk membela kebenaran dan menolak kebatilan, mempertahankan keimanan dan memerangi kekufuran dan atheisme.
Perbaikilah diri kalian dan rumahtangga kalian, bersegeralah melakukan kebaikan untuk dapat memperbaiki kelompok masyarakat. Tetaplah berada disamping orang-orang yang tertindas dan terzhalimi dimana saja mereka berada guna mengembalikan hak yang terampas dan melawan kezhaliman sesama manusia.
Kembalilah kepada Qur’an yang mulia dan Sunnah Rasulullah yang mulia, sirah kehidupan Rasulullah dan dan kehidupan manusia-manusia yang agung dan shalihin. Pelajarilah dan ambillah manfaat darinya serta luruskan dan perbaikilah perjalanan hidup kalian secara kontinyu dan ketahuilah bahwa Allah senantiasa memperhatikan amal kalian dan bukan melihat pada zahir kalian. Dan teruslah berharap akan pertolongan Allah karena ia amatlah dekat;
وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ. بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
”Pada hari itu orang-orang beriman bergembira. (Dengan kemenangan yang diberikan Allah). Dia memberi kemenangan kepada sesiapa yang dikehendakiNya dan Dialah Allah Yang Maha Perkasa, lagi Maha Mengasihani.” (ar-Rum: 5)
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
”Dan katakanlah (wahai Muhammad): Beramallah kalian (akan segala yang diperintahkan), maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat apa yang kalian kerjakan dan kelak kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui perkara-perkara yang ghaib dan yang nyata, kemudian Dia akan memberitahukan kepada kalian apa yang kalian telah kerjakan.” (at-Taubah: 105)
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf:21)
Halaman ini untuk menjalin kekuatan informasi. Meretas lintas batas geografi untuk saling berbagi. Selamat berjuang. Bersama Pemuda Peradaban membangun peradaban islami.
Rabu, 24 Februari 2010
Ma'tsurat
Taqdim
Ini merupakan rangkaian ta’limat ringkas yang saya himbau dari risalah Al-Ma’tsurat oleh Al-Ustadz Asy-Syaikh Hasan Al-Banna-semoga Allah mencurahkan rahmat kepadanya-dimana rangkaian ta’limat ini akan menjelaskan kalimat-kalimat yang sulit dimengerti, serta membantu para pembaca untuk memahami makna dan maksudnya. Saya juga telah men-takhrij hadits-haditsnya dari kitab aslinya., yakni dari kitab Al-Jami’ Ash-Shahih oleh Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, kitab Al-Jami’ Ash-Shahih oleh Imam Abil Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi, kitab As-Sunan oleh Imam Abi Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib An-Nasai, kitab As-Sunan oleh Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdiurrahman Ad-Darini, kitab Amalul Yaumi wal Lailah oleh Imam Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ishad Ad-Daniri yang terkenal dengan nama Ibnus Sunni, serta kitab-kitab lainnya.
Saya benahi kekeliruan, kemudian saya modifikasi, yang mana ini tidak terdapat dalam naskah Al-Ustadz Hasan Al-Banna yang beliau tulis dengan tangan beliau sendiri.
Dengan begitu saya berharap bahwa saya telah melakukan kewajiban terhadap hadits-hadits Nabi, terhadap Al-Ustadz Hasan Al-Banna, dan para pembaca ma’tsuratnya.
Ridhwan Muhammad Ridhwan
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad saw. Beliau adalah sebaik-baik ahli dzikir, pemimpin orang-orang yang bersyukur, imam para rasul, penutup para nabi, dan panglima orang-orang terbaik. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada keluarga, seluruh sahabat, dan orang-orang yang menapaki jalannya, hingga hari kiamat.
1. Dzikir di Setiap Kesempatan
Ketahuilah wahai saudaraku-semoga Allah menganugerahkan taufiq-Nya kepada kita-bahwa setiap manusia itu mempunyai tujuan asasi dalam kehidupannya, seluruh pemikiran diarahkan kesana, dan ke sana pula tertuju semua amal perbuatan serta semua angan dan cita-citanya. Tujuan asasi itulah yang banyak orang menamakannya dengan al-matsalul a’la (nilai yang tinggi). Kapan saja tujuan ini meninggi dan melambungkan nilainya, maka akan naik pula amal perbuatan yang tinggi dan agung, jiwa pemiliknya akan terformat dengan sebuah bentuk keindahan ruhani dan selalu meniti menuju kesempurnaan, sampai akhirnya tergapai apa yang diinginkan.
Islam-yang datang untuk mengislahkan, mentazkiyah jiwa-jiwa manusia, dan mengajaknya ke puncak kesempurnaan yang memungkinkan untuk diraih-telah menjelaskan kepada sekalian manusia akan tujuan yang mulia dan al-matsalul a’la- Al-matsalul a’la ini tiada lain adalah “men-taqdis-kan Allah jalla wa a’la.” Al-Qur’an sendiri mengatakan,
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ
“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu (Adz-Dzariyat: 50)
Jika anda mengetahui hal ini wahai saudaraku, janganlah mersa aneh jika seorang muslim menjadi hamba yang selalu berdzikir kepada Allah setiap waktu dan kesempatan. Jangan heran jika ia selalu berusaha mewarisi dari Rasulullah-dan beliau adalah hamba yang berma’rifat kepada Rabbnya-lafal yang indah, memiliki kedalaman makna dari dzikir, do’a, syukur, tasbih, dan tahmid dalam setiap waktu dan kesempatan, baik dzikir yang kecil maupun yang besar, atau bahkan yang kelihatan remeh. Karena Rasulullah saw. Selalu berdzikir dalam setiap kesempatan yang dimilikinya. Jangan heran jika kami menuntun Ikhwanul Muslimin agar berittiba’ dan beruswah kepada sunah Nabi dengan cara menghafal lafal-lafal dzikir ini dan bertaqarrub kepada Allah dengannya.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)
2. Keutamaan dzikir dan Orang-orang yang Melakukannya
Terdapat perintah yang memperbanyak dzikir, terdapat penjelasan akan keutamaannya dan keutamaan orang-orang yang melakukannya pada banyak ayat dan hadits Rasulullah saw. Cukuplah bagi anda mengetahui puncak martabat orang-orang yang berdzikir itu pada firman Allah berikut;
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin laki-laki dan perenpuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama kepada Allah, Allah telah menyediakan unyuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)
Dan Allah telah memerintahkan kaum mukminin untuk banyak berdzikir dalam firman-Nya;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا . وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah sdengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41-42)
Terdapat banyak hadits tentang keutamaan dzikir.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
Rasulullah bersabda meriwayatkan dari Rabbnya, dimana Allah swt. Berfirman, “Aku terserah kepada persangkaan hamba-Ku terhadap Ku, jika ia menginat-Ku (baca: berdzikir) dalam diri-Nya, aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku didalam sebuah jamaah, aku akan menyebutnya di dalam jamaah yang lebih baik dari mereka.” (Muttafaqun ‘Alaihi dari hadits Abu Hurairah)
وَقَالَ الْآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَمُرْنِي بِأَمْرٍ أَتَثَبَّتُ بِهِ فَقَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Dari Abdullah bin Yusr ra. Bahwa ada seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak ada padaku, maka beritahulah kepadaku dengan sesuatu yang aku berpegang teguh dengannya.” Rasulullah bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa hadits ini hasan)
3. Adab Berdzikir
Ketahuilah wahai saudaraku, yang dimaksud dzikir di sini bukanlah sebatas dzikir ucapan, tetapi taubat itu merupakan dzikir, tafakkur itu dzikir, menuntut ilmu itu dzikir, mencari rezeki-jika niatnya baik-jiga termasuk dzikir, dan segala sesuatu yang di sana ada upaya taqarrub kepada Allah dan anda selalu waspada akan pengawasan-Nya kepada anda, maka itu adalah dzikir. Oleh karena itu orang yang arif adalah orang yang bisa berdzikir di setiap waktu dan kesempatan.
Orang yang berdzikir itu harus ada bekas dan pengaruhnya dalam hati, dengan cara menjaga adab-adabnya. Karena kalau tidak, dzikir berupa kata-kata yang terucap tanpa punya makna dan pengaruh. Para ulama banyak menyebut adab-adab dan tata cara berdzikir. Namun yang terpenting dan paling utama untuk dijaga dan diperhatikan adalah:
1. Khusyu’, menghadirkan hati dan pikiran akan makna-makna lafal yang terucap, berusaha terwarnai olehnya, serta berusaha menetapi maksud dan tujuannya.
2. Merendahkan suara sebisa mungkin, dengan konsentrasi yang penuh dan iradah yang sempurna, sehingga tidak mengganggu yang lain. Terkait dengan ini, Allah swt. Berfirman;
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 205)
3. Sesuai dengan jamaah (irama dan suaranya), jika kebetulan dzikirnya itu bersama jamaah. Usahakan agar tidak mendahului, terlambat, atau mengungguli bacaan mereka. Bahkan manakala ia datang sementara mereka telah memulai, hendaklah ia memulai dengan bacaan mereka, kemudian mengqadha’ apa yang belum dia baca setelah berakhir. Jika ia terlambat di tengah-tengah mereka membaca dzikir, hendaklah ia baca apa yang telah lewat dan dengan menyusul bacaan mereka. Hal ini agar tidak menyelewengkan bacaan atau mengubah tatanan. Dan yang demikian ini kalau dilanggar hukumnya haram.
4. Bersih pakaian dan tempat, memperhatikan tepat-tempat yang terhormat dan waktu-waktu yang sesuai. Hal ini dimaksudkan agar semakin menambah pengkristalan iradah, kejernihan hati, dan ketulusan niat.
5. mengakhiri dengan penuh khusu’ dan adab, menjauhi kesalahan dan main-main, yang hal itu bisa menghilangkan faedah dan pengaruh dzikir.
Jika seorang memperhatikan adab dan tata krama ini, niscaya ia akan bisa mengambil manfaat dari apa yang ia baca atau akan menjumpai pengaruh dan kelezatan dalam hatinya, mengais cahaya untuk ruhaninya, dan kelapangan dalam dadanya dengan limpahan (rahmat) dari Allah ta’ala, insya Allah.
4. Dzikir Berjamaah
Terdapat banyak hadits yang mengisyaratkan disunahkannya dzikir berjamaah. Dalam hadits yang ditriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah saw. Bersabda;
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum duduk-duduk (untuk) berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat mengitari mereka, rahmat memayunginya, ketenangan turun kepadanya, dan Allah menyebut-nyebut mereka kepada siapa saja yang berada di sisi-Nya.” (Sunan Abi Daud)
Dan anda akan menjumpai banyak hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah saw. Keluar untuk shalat berjamaah, sementara mereka berdzikir di masjid. Lalu beliau memberikan kabar gembira dan tidak melarang mereka (melakukan hal itu).
Berjamaah dalam ketaatan itu pada dasarnya dianjurkan apabila membuahkan banyak manfaat, seperti: bersatunya hati, menguatkan ikatan, menggunakan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat, dan mengajarkan kepada orang awam yang belum baik dalam belajar serta mengumandangkan syi’ar Allah swt.
Memang berjamaah dalam dzikir itu dilarang, jika dengannya mengakibatkan hal-hal yang terlarang secara syar’i, seperti mengganggu orang shalat, senda gurau dan tertawa, menyelewengkan lafal, mengungguli bacaan yang lain, atau yang sejenisnya. Maka ketika terjadi demikian, dzikir secara jama’i dilarang karena ada kerusakan-kerusakan ini, bukan karena jamaahnya itu sendiri. Khususnya jika dzikir secara jama’i itu dilakukan dengan lafal-lafal dzikir yang ma’tsur dan shahih, sebagaimana dalam wadzifah ini. Maka alangkah baiknya para aktivis Ikhwan sering berkumpul untuk membaca pada pagi dan sore di tempat-tempat berkumpul mereka, atau di masjid, dengan tetap menjauhi hal-hal yang dilarang oleh syari’at. Bagi siapa saja yang tidak bisa berjamaah, hendaknya membaca sendiri, jangan sampai meninggalkannya sama sekali.
2) Diantara hadits Abu Said Al-Khudzri ra., ia berkata,
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلَّ عَنْهُ حَدِيثًا مِنِّي
وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ
“Muawiyah keluar (menuju) sebuah halaqah di masjid. Ia berkata, ‘Apa yang membuat kalian duduk (disini)?’ Mereka menjawab, ‘Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah.’ Muawiyah berkata, ‘Demi Allah, kalian tidak duduk di sini untuk hal itu.’ Mereka menjawab, ‘Demi Allah, kami tidak duduk disini melainkan untuk itu (berdzikir).’ Muawiyah berkata, ‘Saya tidak meminta kalian bersumpah karena ketidakpercayaan saya kepada kalian. Dan tidak ada seorang pun yang setara denganku dimata Rasulullah saw., yang lebih sedikit dariku dalam menukil hadits dari beliau. Dan sesungguhnya Rasul Allah saw. Keluar (menuju) ke sebuah halaqah dari para sahabat, seraya bertanya, ‘Apa yang menjadikan kalian duduk di sini’ Mereka menjawab, ‘Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah, memanjatkan puji dan syukur kepada-nya, karena Dia telah memberikan hidayah kepada kami.’ Rasulullah bersabda, ‘Saya tidak meminta kalian untuk bersumpah karena ketidakpercyaanku kepada kalian. Namun Jibril telah datang kepadaku seraya memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan malaikat.’” (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i)
Khatimah
Amma Ba’du,
Ikhwanul Muslimin mempersembahkan wadzifah ini tidak hanya diperuntukkan bagi mereka saja, tetapi juga untuk seluruh kaum muslimin. Mudah-mudahan ia dapat membantu mereka dalamtaat kepada Allah swt. Dibaca di waktu pagi, dari shubuh hingga zhuhur; dan sore hari, dari Ashar hingga ba’da isya’, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. Barangsiapa melalaikannya, hendaklah tidak meninggalkan sebagiannya, agar tidak terbiasa mengabaikanya.
Sedangkan wirid-wirid Al-Qur’an, untuk dibaca siang dan malam, juga adzkar yang lain, dibaca pada waktunya yang tepat.
Kita memohon kepada Allah-untuk kami dan mereka semuanya-taufik dan hidayah-Nya. Kami juga memohon kepada Allah untuk mereka, kiranya kebaikan do’a-do’a mereka tidak melalaikan kami.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.
Pertengahan Ramadhan, 1355 H
Hassan Al-Banna
Bagian pertama
AL-WADZIFAH
أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syetan yang terkutuk.” 1)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ . إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ . اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasasi hari pembalasan. Hanya kepada-Mulah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalannya orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepadanya; bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.” (Al-Fatihah 1-7)2)
بسم الله الرحمن الرحيم . الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ . وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ . أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
‘Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) itu tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menunaikan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang telah mendapatkan petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqarah: 1-5)3)
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ . لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ . اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapt memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan mengetahui apa-apa yang ada di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat mengurus keduanya. Dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam; sesungguhnya telah jelas yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus dan Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka adalah thaghut, mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.” (Al-Baqarah 255-257)
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ . لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada di langit dan ada di bumi. Jika kamu melahirkan apa yang ada ddalam harimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang di kehendaki-Nya dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Rasul telah beriman kepada AL-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,’ dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat.’ (mereka berdoa), “Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan Engkaulah tempat kembali.’ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, jangnalah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, Engkau Penolong kami, maka tolonglah terhadap kaum yang kafir.” (Al-Baqarah: 284-286)
بسم الله الرحمن الرحيم الم. اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Alif Lam Mim. Allah tiada Tuhan melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri.” (Al-Imran: 1-2) (4)
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا . وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا
“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluknya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang-orang yang melakukan kezhaliman, dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang shalih dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (Toha: 111-112)
حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (At-Taubah: 129) (dibaca tujuh kali)5)
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا . وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
‘Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama mana saja kamu seru. Dia mempunyai asmaul husna (nama-nama yang terbaik), janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula kamu merendahkannya dan carilah jalan tengan di antara keduannya itu.’ Katakanlah, ‘Segala puji bagi kerajaan-Nya, dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan pengangung yang sebesar-besarnya.” (Al-Isra’: 110-111)6)
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ . فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ . وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ . وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
‘Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan kamu tidak dikembalikan kepada kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya, tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang mempunyai ‘Arsy yang mulia. Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada sesuatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak beruntung. Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah pemberi rahmat yang baik.” (Al-Mukminun: 115-118) (7)
فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ . وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ. يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ . وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ. وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ. وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ . وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ . وَمِنْ آَيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ. وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ . وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ
“Maka bertasbilahlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan di waktu kamu berada di waktu shubuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hati dan di waktu kamu berada di waktu zhuhur. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan sepeti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan jadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kau yang berpikir. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lain bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah tidurmu diwaktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengar. Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akal. Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekalian panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk.” (Ar-Rum: 17-26) (8)
حم . تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ . غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ
“Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ha Mim. Diturunkan kitab (Al-Qur’an) dari Allah yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukum-Nya, yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluknya).” (Al-Mukmin: 1-3)9)
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ . هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ . هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja yang Mahasuci, yang Mahasejahtera, yang Mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, yang Mahaperkasa, yang Mahaesa, yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka mempersekutukan. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang Mmbentuk rupa, yang Mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbilah kepada-Nya apa yang di langit dan apa yang di bumi. Dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Hasyr: 22-24)10)
بسم الله الرحمن الرحيم . إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا. وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا. وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا . يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا. بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا . يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ . فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi )jadi begini). Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kapadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarah pun, niscaya dia melihat (balasan)nya pula .” (Az-Zalzalah: 1-8)11)
بسم الله الرحمن الرحيم. قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ . لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
‘Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kau sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak akan menjadi penyembah apa yang kau sembah, dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.’” (Al-Kafirun: 1-6)12)
بسم الله الرحمن الرحيم. إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ . وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا . فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
“Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (An-Nashr: 1-3)13)
بسم الله الرحمن الرحيم. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Dialah Allah yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan, dan tiada seorang pun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlas: 1-3) (tiga kali)
بسم الله الرحمن الرحيم. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dengan menyebut nama asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai shubuh dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukanh sihir yang menghembuskan pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang-orang yang dengki apabila ia dengki.” (Al-Falaq: 1-5) (tiga kali)
بسم الله الرحمن الرحيم. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ . مَلِكِ النَّاسِ . إِلَهِ النَّاسِ . مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ . الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ . مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
“Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa tersembunyi, yang membisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.” (An-Nas: 1-6) (tiga kali) (14)
أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الُمُلْكُ للهِ وَالْحَمْدُ للهِ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ / الْمَصِيْرُ
‘Kami berpagi hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada Tuhan melainkan Dia, dan pada-Nya tempat kembali.” (tiga kali)15)
أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ وَعَلَى كَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ
‘Kami berpagi hari diatas fitrah Islam, di atas kata keikhlasan, di atas agama Nabi Kami; Muhammad saw., dan di atas millah bapak kami: Ibrahim yang hanif. Dan ia bukan termasuk golongan orang-orang yang musyrik.” (tiga kali)16)
اللَّهُمَّ إِنِّى أَصْبَحْتُ مِنْكَ فِى نِعْمَةٍ وَعَافِيَةٍ وَسِتْرٍ فَأَتِمَّ عَلَيَّ نِعْمَتَكَ وَعَافِيَتَكَ وَسِتْرَكَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berpagi hari dari-Mu dalam kenikmatan, kesehatan, dan perlindungan. Maka sempurnakanlah untukku kenikmatan, kesehatan, dan perlindungan-Mu itu, di dunia dan akhirat.” (tiga kali)17)
اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ
“Ya Allah, kenikmatan yang aku atau salah seorang dari makhluk-Mu, berpagi hari dengannya, adalah dari-Mu semata; tiada sekutu bagi-Mu. Maka bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu rasa syukur.” (tiga kali)18)
يَا رَبِّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ
“Ya Rabbi, bagi-Mu segala puji sebagaimana seyogyanya; bagi kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.” (tiga kali)19)
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا
“Aku rela dengan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.” (tiga kali)20)
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
“Mahasuci dan puji bagi-Nya; sebanyak-banyak bilangan makhluk-Nya, serela diri-Nya, setimbangan ‘Arasy-Nya dan sebanyak tinta (bagi) kata-kata-Nya.” (tiga kali)21)
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dengan nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak selaka segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi maha Mengetahui.” (tiga kali)22)
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami mohon ampun kepada-Mu untuk sesuatu yang tidak kami ketahui.” (tihga kali)23)
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari keburukan yang Dia ciptakan.” (tiga kali)24)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang, dan kesewenang-wenangan orang.” (tiga kali)25)
اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي
“Ya Allah, sehatkanlah badanku; Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku; Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku;
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran; Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur. Tiada Tuhan kecuali Engkau.” (tiga kali)26)
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan kecuali Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Berada di atas janji-Mu, semampuku. Aku mohon perlindungan dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui banyaknya nikmat (yang Engkau anugerahkan) kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau.” (tiga kali)27)
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku mohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, yang Mahahidup kekal dan senantiasa mengurus (makhluk-Nya) dan aku bertaubat kepada-Nya.” (tiga kali)28)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
“Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Berilah barakah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Di alam ini, Engkaulah yang Maha Terpuji lagi Mahamulia.” (sepuluh kali)29)
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Mahabesar.” (seratus kali)30)
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Tiada Tuhan melainkan Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, Dia berkuasa atas segala sesuatu.” (sepuluh kali)31)
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Mahasuci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” (tiga kali)32)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ عَدَدَ مَا أَحَاطَ بِهِ عِلْمُكَ وَخَطَّ بِهِ قَلَمُكَ وَأَحْصَاهُ كِتَابُكَ وَارْضَى اللَّهُمَّ عَنْ سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
“Ya Allah berilah shalawat kepada Nabi Muhammad; hamba-Mu, Nabi-Mu, dan Rasul-Mu, Nabi yang ummi. Juga kepada keluarga dan para sahabatnya, serta berilah keselamatan sebanyak yang terjangkau oleh ilmu-Mu; yang tergores oleh pena-Mu; dan yang terangkum oleh kitab-Mu. Ridhailah-ya Allah-para pemimpin kami: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta semua sahabat, semua tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari Pembalasan.”
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Maha suci Tuhanmu, Tuhan kemuliaan dari apa-apa yang mereka sifatkan. Keselamatan semoga tercurah kepada para utusan dan segala puji bagi Allah. Tuhan sekalian alam.”33)
WADZIFAH SHUGHRA
Jika seorang akh mendapatkan waktunya sempit atau tengah terjadi degradasi keimanan (futur) pada dirinya, atau pada saudaranya yang lain jika dibaca bersama mereka, maka hendaklah ia meringkas seperti berikut ini:
Bacalah isti’adzah, Al-Fatihah, ayat kursi, tiga ayat terakhir Al-Baqarah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing tiga kali. Kemudian bacalah dzikir dan doa yang telah disebutkan di atas, sampai istighfar yang terakhir.
Lalu ikutlah secara langsung dengan istighfar dengan sighat. Demikianlah hingga akhir wadzifah.
________________________________________________________________
1) Allah swt. berfirman, “Maka jika kamu membaca Al-Qur’an, mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dari Anas ra. dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa di waktu pagi mengatakan: a’udzubillahis sami’il alim…., dia akan dibebaskan dari gangguan syetan hingga sore.”
2) Hadits Ubai bin Ka’ab ra. menceritakan, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah diturunkan dalam Taurat, Zabur, Injil, atau Furqan yang se-banding dengan Al-Fatihah. Sesungguhnya ia merupakan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Qur’an yang agung yang di-anugerahkan kepadaku.” (HR. Tirmidzi dan ia mengatakan, “Hadits hasan shahih.” Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya dengan sanad dari Ubay bin Ka’ab dari Nabi saw. bahwa beliau saw. bersabda, ‘Setiap pekerjaan yang bermanfaat yang tidak dimulai dengan ‘Bismillahirrahmanirrahim’, maka perkara itu terputus.” Artinya, amal itu sedikit nilai berkahnya.
3) Diriwayatkan oleh Ad-Darami dan Al-Baihaqi dalam Asy Syu’ab dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa dia berkata, “Barangsiapa membaca sepuluh ayat dari surat Al-Baqarah di permulaaan siang, maka ia tidak akan didekati oleh syetan sampai sore. Dan jika membacanya sore hari, maka ia tidak akan didekati oleh syetan sampai pagi dan ia tidak akan melihat sesuatu yang dibenci pada keluarga dan hartanya”. Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan Al-Hakim dalam Shahih-nya, dari Ibnu Mas’ud ra., Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa membaca sepuluh ayat; empat ayat dari awal aurat Al-Baqarah, ayat kursi dan dua ayat sesudahnya serta ayat-ayat terakhir dari Al-Baqarah tersebut, maka rumahnya tidak akan di-masuki oleh syetan sampai pagi. ”
4) Dari Al-Qasim bin Abdurrahman ra., dari Nabi saw. bahwa asma Allah yang agung itu ada pada tiga surat dalam Al-Qur’an yakni: surat Al-Baqarah, Ali Imran, dan surat Thaha. Al-Qasim berkata, “Kemudian aku mencarinya, maka aku mendapatkan pada surat Al-Baqarah adalah ayat (kursi), “allahu Ia ilaha illa huwal hayyul qayyum”, pada surat Ali Imran adalah ayat, “alif lam mim, allahu Ia ilaha illah huwal hayyul qayyum”, dan pada surat Thaha adalah ayat, ‘wa ‘analil wujuhu ill hayyil qayyum.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dan belum dikomentari oleh Adz-Dzahabi
5) Dari Abu Darda ra. dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa di waktu pagi atau sore membaca: hasbiyallahu …. tujuh kali, maka Allah akan mencukupi apa yang diinginkan dari perkara dunia dan akhirat.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dan Ibmt Asakir secara marfu’ Diriwayatkan pula Oleh Abu Dawud dan secara mauquf oleh Abu Darda’
6) Dari Abu Musa Al-Asy’ari ia. berkata bahwa Rasulullah saw. : “Barangsiapa pada waktu pagi dan sore membaca: qulid’ullaha awid’urrahman sampai akhir ayat, maka hatinya tidak akan mati pada hari dan malam itu (Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Dilami dalam kitab Musna Al-Firdaus)
7) Dari Muhammad bil Ibrahim At-Taimi dari ayahnya berkata, “pada suatu Peperangan Rasulullah saw. memberikan nasehat kepada kami agar membaca: afahasibtum annama khalaqnakum….. dan ayat-ayat berikutnya. Kami pun membacanya. maka kami berhasil memperoleh ke-keselamatan dan keselamatan.” (Hadits diriwayatkan oleh lbnu Sunni, Abu Nu’aim, dan Ibnu Mandah. Al-Hafidz [Ibnu Hajar, Pent.] berkata, “Sanadnya bisa diterima.”)
8) Ibnu Abbas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa ketika pagi membaca: subhanallahi hiina…. sampai pada… wakazalika tukhrajun, maka ia akan menemukan apa-apa yang hilang pada hati itu. Dan barangsiapa membacanya pada sore hari, akan ia menemukan apa yang hilang Pada malamnya (HR. Abu Dawud)
9) Dari Abu Hurairah ra, berkata bahwa telah bersabda Rasulullah saw.,: “Barangsiapa membaca: haa-miim… dalam surat Al-Mukmin sampai ilaihil mashir dan ayat kursi, maka ia akan dipelihara oleh kedua ayat tadi sampai sore dan barangsiapa membacanya Pada sore hari. maka kedua ayat itu akan menjaganya sampai pagi hari . ” Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ad-Darimi, Ibnu Sunni, dan Al-Maruzy)
10) Dari Abu Umamah ra, bahwa beliau saw. bersabda: “Barangsiapa membaca ayat-ayat akhir surat Al-Hasyr pada waktu malam atau siang, maka Allah akan menjamin baginya surga.” (HR. Al-Baihaqi)
11) Dalam hadits riwayat Ibnu Abbas ia. –marfu’- disebutkan bahwa, “idza zulzilat” itu menyamai separo Al-Qur’an.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi Al-Hakim dari hari hadits Yaman Bin Al-Mughirah)
12) Hadits Ibnu Abbas ra., “qul ya ayyuhal kafirun itu menyamai seperempat Al-Qur’an (Hadits riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim. Dia mengatakan, “sanadnya shahih.”)
13) Hadits dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada salah seorang sahabatnya, “Bukankah bersamamu idza ja-a nashrullahi walfathuu?” Sahabat tadi menjawab, “Ya.” Rasulullah saw. bersabda, ” Ia menyamai seperempat Al-Qur’an.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi. Dia mengatan, “ini hadits hasan.”)
14) Dari Abdullah bin Hubaib ra.. ia berkata, “(Suatu ketika) kami keluar pada malam yang gelap gulita dan sedang hujan. Kami meminta kepada Rasulullah saw. agar berkenan mendoakan kami. Maka kami pun menjumpai beliau, lalu beliau bersabda, “Katakanlah saya tidak mengatakan apa-apa. Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah Saya tidak mengatakan apa-apa. Kemudian saya bertanya -Apa yang harus saya katakan, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, -quhuwaallahu ahad dan dua surat perlindungan (Al-Falaq dan An-Nas) tatkala sore dan pagi hari masing-masing tiga kali, niscaya ia sudah mencukupi dari segala sesuatu.” (Hadits riwayat Abu Dawud, Timidzi, dan An-Nasa’i. At-Tirmidzi berkata, “Ini hadits hasan shabih.”)
15) Dari Abu Hurairah ra. berkata, “Rasulullah saw. tatkala pagi hari selalu membaca: asbahna wa-asbahal mulku lillahi… dan ketika sore berkata: amsaina wa-amsal mulku lillahi….”(Hadits riwayat lbnu Sunni dan Al-Bazzar. Al-Baihaqi berkata, “Hadits ini sanadnya baik.”)
16) Dari Ubay bin Ka’ab ra. berkata “Ketika pagi hari Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami untuk membaca: asbahna ala fithratil islam… dan ketika sore hari juga dengan doa yang sama (Hadits riwayat Abdullah bin Imam Ahmad Ibnu Hanbal dalam Zawaid-nya)
17) Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw., ‘Barangsiapa membaca tiga kali: allahumma inni asbahtu mingka maka wajib bagi Allah untuk menyempurnakan nikmat-Nya kepadanya.” (Hadits riwayat Ibnu Sunni)
18) Dari Abdullah bin Ghannam Al-Bayadhi bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ketika pagi membaca: allahumma ma-asbaha bi …., maka sesungguhnya ia telah menunaikan syukur pada hari itu. Dan barangsiapa membacanya ketika sore hari, maka ia telah menunaikan syukur pada malam harinya.” (Hadits riwayat Alyu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya)
19) Dari Abdullah bin Umar ra., bahwasanya Rasululah saw. bercerita kepada mereka tentang seorang hamba dari hamba Allah yang mengatakan: ya rabbi lakal hamdu…. maka dua malaikat merasa berat dan tidak tahu bagaimana harus mencatat (pahalanya). Kemudian keduanya naik ke langit seraya berkata, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya hamba-Mu telah mengatakan satu perkataan yang kami tidak tahu bagaimana mencatat (pahala)-nya,” Allah swt. -Dia Mahatahu apa yang dikatakan hamba-Nya- berfirman, “Apakah yang dikatakan hamba-Ku?” Kedua malaikat menjawab, Sesungguhnya ia mengatakan: ya rabbi lakal hamdu…. Maka Allah swt. berfirman. catatlah pahalanya sebagaimana. Yang diucapkan oleh hamba-Ku tadi sampai ia berjumpa dengan-Ku niscaya Aku akan membalasnya,” (Hadits riwayat Imam Ahmad. Ibnu Majah, dan para perawinya tsiqah)
20) Dari Abi Salam ra. -seorang pelayan Rasulullah- dalam hadits marfu’, ia berkata, saya. mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ketika pagi dan sore mengatakan: radiitu billahi rabba ….., maka adalah wajib bagi Allah untuk meridhainya.” (Hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi An-Nasa’i dan Al-Hakim)
21) Dari Juwairiyah (Ummul Mukminin ra.), Nabi saw. keluar dari sisinya pagi-pagi untuk Shalat shubuh di masjid. Beliau kembali (ke kamar Juwairiyah waktu dhuha, sementara ia masih duduk di sana Lalu Rasulullah saw. bertanya “Engkau masih duduk sebagaimana ketika aku tinggalkan tadi?” Juwairiyah menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh, aku telah mengatakan kepadamu empat kata sebanyak tiga kali, yang seandainya empat kata itu ditimbang dengan apa saja yaag engkau baca sejak tadi tentu akan menyamainya (empat kata itu adalah) yakni: subhanallah wabihamdihi ‘adada khalqihi……” (Hadits riwayat Muslim)
22) Dari Utsmam bin Affan ra. berkata, “Rasulullah saw. bersabda, Tidaklah seorang hamba setiap pagi dan sore membaca: bismillahilladzi layadhurru ….., kecuali bahwa tidak ada sesuatu yang membahayakannya. ” (Hadits riwayat Abu dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih. “)
23) Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra. berkata bahwa suatu hari Rasulullah saw. berkhutbah di hadapan kita, seraya bersabda: “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian kepada syirik, karena sesungguhnya syirik itu lebih lembut daripada binatang semut.” Kemudian berkatalah seseorang kepada beliau, “Bagaimana kita berhati-hati kepadanya wahai Rasul, sementara dia lebih lembut daripada binatang semut?” Rasulullah saw. bersabda, “Katakanlah allhumma inna na’udzubika …..” (Hadits riwayat Ahmad dan Thabrani dengan Sanad yang baik. Juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la sebagaimana hadits tadi dari Khudzaifah, hanya saja Khudzhaifah berkata, “Beliau (Rasulullah saw.) membacanya tiga kali.”)
24) Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa menjelang sore membaca: a’udzubukalimatillahi ….. sebanyak tiga kali, maka tidak akan membahayakan baginya racun yang ada pada malam itu.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya)
25) Dari Abu Sa’id Ak-Khudri ra. berkata, “Suatu hari Rasulullah saw. masuk masjid, tiba-tiba beliau jumpai seorang Anshar yang-bernama Abu Umamah. Rasulullah saw. bertanya, ‘Wahai Abu Umamah, mengapa kamu duduk-duduk di masjid di luar waktu shalat?’ Abu Umamah menjawab, ‘Karena kegalauan Yang melanda hatiku dan hutang-hutangku, wahai Rasulullah.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukankah aku telah megajarimu beberapa bacaan, yang bila kau baca, niscaya Allah akan menghilang rasa galau dari dirimu dan melunasi hutang-hutangmu?’ Abu Umamah berkata ‘Betul, wahai Rasulullah.’ Rasulullah bersabda, ‘Ketika pagi dan sore ucapkanlah: allahumma inni a’udzubika minalhammi wal hazan……’ Kemudian aku melakukan perintah tadi, maka Allah menghilangkan rasa galau dari diriku dan melunasi hutang-hutangku.” (HR. Abu Dawud)
26) Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah ra., dia berkata kepada ayahnya ‘ “Wahai ayahku, sesungguhnya aku mendengar engkau berdoa: allahumma ‘afini fi badani . ……Engkau lakukan itu tiga kali ketika pagi dan tiga kali ketika sore,” Sang ayah berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw berdoa seperti itu, maka aku pun ingin mengikuti sunah beliau.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya)
27) Dari Syaddad bin Aus ra., Nabi saw. bersabda, “Sayyidul istighfar (doa permohonan ampunan yang terbaik) adalah: allahumma anta rabbi Ia-ilaha illaanta khakaqtani….. Barangsiapa membacanya ketika sore hari sembari yakin akan kandungannya, kemudian meninggal pada malam itu, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa membacanya pada pagi hari sembari yakin akan kandungannya kemudian meninggal pada hari itu, maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari dah yang lainnya)
28) Dari Zaid (pelayan Rasulullah saw.) berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang membaca: astaghfirullahalladzi la-ilaha illa huwal hayyu……., Allah akan mengampuninya, meski ia lari dari pertempuran.’ (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Al-Hakim. Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih berdasarkan atas syarah Bukhari dan Muslim.”)
29) Dari Abu Darda’ ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca Shalawat kepadaku sepuluh kali ketika pagi dan sepuluh kali ketika sore, maka ia akan memperoleh syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Thabrani)
30) Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya berkata, “Barangsiapa bertasbih kepada Allah seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka ia seperti orang yang melakukan haji seratus kali. Barangsiapa bertahmid kepada Allah seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka ia seperti orang yang membawa seratus kuda perang untuk berjihad dijalan Allah.Barangsiapa mengucapkan tahlil (ucapan ‘lailaha illallah’) seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka ia seperti memerdekakan seratus budak dari anak cucu Ismail. Barangsiapa mengucapkan takbir (ucapan’Allalm Akbar’) seratus kali di pagi hari dan seratus kali di sore hari, maka Allah tidak akan memberi seseorang melebihi apa yang diberikan kepadanya, kecuali orang itu melakukan hal yang sama atau lebih.” (HR. Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits ini hasan.” An-Nasa’i juga meriwayatkan hadits yang sama)
Dan dari Ummu Hani’ ra., Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Wahai Ummu Hani’, ketika pagi hari bertasbihlah kepada Allah seratus kali, bacalah tahlil Seratus kali, bacalah tahmid seratus kali, dan bertakbirlah seratus kali, maka sesungguhnya seratus tasbih itu (pahalanya) dengan seratus unta yang kau korbankan, dan seratus tahlil itu tidak akan menyisakan dosa sebelumnya dan sesudahnya.” (HR. Thabrani)
31) Dari Abu Ayyub ra., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ketika pagi hari membaca: Ia-ilaaha iliallahu wahdahu Ia-syarika lahu….. sepuluh kali, maka Allah akan mencatat setiap kali itu dengan sepuluh kebaikan dan menghapus sepuluh kejelekan, serta mengangkatnya dengan bacaan tadi sepuluh derajat. Bacaan tadi (pahalanya) bagaikan memerdekakan sepuluh budak, dan ia bagi pembacanya sebagai senajata bagi permulaan siang sampai menjelang sore, serta hari itu ia tidak akan mengerjakan pekerjaan yang akan mengalahkannya. Dan barangsiapa membacanya ketika sore hari, maka ia (pahalanya) seperti itu juga.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Sa’id bi Mansur dan yang lainnya)
32) Dari Jubair bin Muth’im ra- berkata, Rasulullah saw. bersabda “Barangsiapa membaca: subhanalli wabihamdika asy-hadu….pada suatu majelis dzikir maka bacaan ‘Itu seperti stempel Yang dicapkan padanya. Dan barangsiapa mengucapkannya pada forum iseng, maka bacaan itu sebagai kafarat baginya. (HR. An-Nasa’i, Al-Hakim, dan Ath-Thabrani, dan Yang lainnya)
33) Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Kami meriwayatkan dalam kitab Hilyatul Auliya’ dari Ali ra., ‘Barangsiapa suka mendapatkan timbangan kebajikan yang sempurna, maka hendaklan diakhir majelisnya ia membaca: subhana rabbika raabil ‘izzati amma yassifun…
Sumber: http://www.al-ikhwan.net/al-ma’tsurat-3565/comment-page-1/#comment-5897
Ini merupakan rangkaian ta’limat ringkas yang saya himbau dari risalah Al-Ma’tsurat oleh Al-Ustadz Asy-Syaikh Hasan Al-Banna-semoga Allah mencurahkan rahmat kepadanya-dimana rangkaian ta’limat ini akan menjelaskan kalimat-kalimat yang sulit dimengerti, serta membantu para pembaca untuk memahami makna dan maksudnya. Saya juga telah men-takhrij hadits-haditsnya dari kitab aslinya., yakni dari kitab Al-Jami’ Ash-Shahih oleh Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, kitab Al-Jami’ Ash-Shahih oleh Imam Abil Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi, kitab As-Sunan oleh Imam Abi Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib An-Nasai, kitab As-Sunan oleh Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdiurrahman Ad-Darini, kitab Amalul Yaumi wal Lailah oleh Imam Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ishad Ad-Daniri yang terkenal dengan nama Ibnus Sunni, serta kitab-kitab lainnya.
Saya benahi kekeliruan, kemudian saya modifikasi, yang mana ini tidak terdapat dalam naskah Al-Ustadz Hasan Al-Banna yang beliau tulis dengan tangan beliau sendiri.
Dengan begitu saya berharap bahwa saya telah melakukan kewajiban terhadap hadits-hadits Nabi, terhadap Al-Ustadz Hasan Al-Banna, dan para pembaca ma’tsuratnya.
Ridhwan Muhammad Ridhwan
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad saw. Beliau adalah sebaik-baik ahli dzikir, pemimpin orang-orang yang bersyukur, imam para rasul, penutup para nabi, dan panglima orang-orang terbaik. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada keluarga, seluruh sahabat, dan orang-orang yang menapaki jalannya, hingga hari kiamat.
1. Dzikir di Setiap Kesempatan
Ketahuilah wahai saudaraku-semoga Allah menganugerahkan taufiq-Nya kepada kita-bahwa setiap manusia itu mempunyai tujuan asasi dalam kehidupannya, seluruh pemikiran diarahkan kesana, dan ke sana pula tertuju semua amal perbuatan serta semua angan dan cita-citanya. Tujuan asasi itulah yang banyak orang menamakannya dengan al-matsalul a’la (nilai yang tinggi). Kapan saja tujuan ini meninggi dan melambungkan nilainya, maka akan naik pula amal perbuatan yang tinggi dan agung, jiwa pemiliknya akan terformat dengan sebuah bentuk keindahan ruhani dan selalu meniti menuju kesempurnaan, sampai akhirnya tergapai apa yang diinginkan.
Islam-yang datang untuk mengislahkan, mentazkiyah jiwa-jiwa manusia, dan mengajaknya ke puncak kesempurnaan yang memungkinkan untuk diraih-telah menjelaskan kepada sekalian manusia akan tujuan yang mulia dan al-matsalul a’la- Al-matsalul a’la ini tiada lain adalah “men-taqdis-kan Allah jalla wa a’la.” Al-Qur’an sendiri mengatakan,
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ
“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu (Adz-Dzariyat: 50)
Jika anda mengetahui hal ini wahai saudaraku, janganlah mersa aneh jika seorang muslim menjadi hamba yang selalu berdzikir kepada Allah setiap waktu dan kesempatan. Jangan heran jika ia selalu berusaha mewarisi dari Rasulullah-dan beliau adalah hamba yang berma’rifat kepada Rabbnya-lafal yang indah, memiliki kedalaman makna dari dzikir, do’a, syukur, tasbih, dan tahmid dalam setiap waktu dan kesempatan, baik dzikir yang kecil maupun yang besar, atau bahkan yang kelihatan remeh. Karena Rasulullah saw. Selalu berdzikir dalam setiap kesempatan yang dimilikinya. Jangan heran jika kami menuntun Ikhwanul Muslimin agar berittiba’ dan beruswah kepada sunah Nabi dengan cara menghafal lafal-lafal dzikir ini dan bertaqarrub kepada Allah dengannya.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)
2. Keutamaan dzikir dan Orang-orang yang Melakukannya
Terdapat perintah yang memperbanyak dzikir, terdapat penjelasan akan keutamaannya dan keutamaan orang-orang yang melakukannya pada banyak ayat dan hadits Rasulullah saw. Cukuplah bagi anda mengetahui puncak martabat orang-orang yang berdzikir itu pada firman Allah berikut;
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin laki-laki dan perenpuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama kepada Allah, Allah telah menyediakan unyuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)
Dan Allah telah memerintahkan kaum mukminin untuk banyak berdzikir dalam firman-Nya;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا . وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah sdengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41-42)
Terdapat banyak hadits tentang keutamaan dzikir.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
Rasulullah bersabda meriwayatkan dari Rabbnya, dimana Allah swt. Berfirman, “Aku terserah kepada persangkaan hamba-Ku terhadap Ku, jika ia menginat-Ku (baca: berdzikir) dalam diri-Nya, aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku didalam sebuah jamaah, aku akan menyebutnya di dalam jamaah yang lebih baik dari mereka.” (Muttafaqun ‘Alaihi dari hadits Abu Hurairah)
وَقَالَ الْآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَمُرْنِي بِأَمْرٍ أَتَثَبَّتُ بِهِ فَقَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Dari Abdullah bin Yusr ra. Bahwa ada seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak ada padaku, maka beritahulah kepadaku dengan sesuatu yang aku berpegang teguh dengannya.” Rasulullah bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa hadits ini hasan)
3. Adab Berdzikir
Ketahuilah wahai saudaraku, yang dimaksud dzikir di sini bukanlah sebatas dzikir ucapan, tetapi taubat itu merupakan dzikir, tafakkur itu dzikir, menuntut ilmu itu dzikir, mencari rezeki-jika niatnya baik-jiga termasuk dzikir, dan segala sesuatu yang di sana ada upaya taqarrub kepada Allah dan anda selalu waspada akan pengawasan-Nya kepada anda, maka itu adalah dzikir. Oleh karena itu orang yang arif adalah orang yang bisa berdzikir di setiap waktu dan kesempatan.
Orang yang berdzikir itu harus ada bekas dan pengaruhnya dalam hati, dengan cara menjaga adab-adabnya. Karena kalau tidak, dzikir berupa kata-kata yang terucap tanpa punya makna dan pengaruh. Para ulama banyak menyebut adab-adab dan tata cara berdzikir. Namun yang terpenting dan paling utama untuk dijaga dan diperhatikan adalah:
1. Khusyu’, menghadirkan hati dan pikiran akan makna-makna lafal yang terucap, berusaha terwarnai olehnya, serta berusaha menetapi maksud dan tujuannya.
2. Merendahkan suara sebisa mungkin, dengan konsentrasi yang penuh dan iradah yang sempurna, sehingga tidak mengganggu yang lain. Terkait dengan ini, Allah swt. Berfirman;
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 205)
3. Sesuai dengan jamaah (irama dan suaranya), jika kebetulan dzikirnya itu bersama jamaah. Usahakan agar tidak mendahului, terlambat, atau mengungguli bacaan mereka. Bahkan manakala ia datang sementara mereka telah memulai, hendaklah ia memulai dengan bacaan mereka, kemudian mengqadha’ apa yang belum dia baca setelah berakhir. Jika ia terlambat di tengah-tengah mereka membaca dzikir, hendaklah ia baca apa yang telah lewat dan dengan menyusul bacaan mereka. Hal ini agar tidak menyelewengkan bacaan atau mengubah tatanan. Dan yang demikian ini kalau dilanggar hukumnya haram.
4. Bersih pakaian dan tempat, memperhatikan tepat-tempat yang terhormat dan waktu-waktu yang sesuai. Hal ini dimaksudkan agar semakin menambah pengkristalan iradah, kejernihan hati, dan ketulusan niat.
5. mengakhiri dengan penuh khusu’ dan adab, menjauhi kesalahan dan main-main, yang hal itu bisa menghilangkan faedah dan pengaruh dzikir.
Jika seorang memperhatikan adab dan tata krama ini, niscaya ia akan bisa mengambil manfaat dari apa yang ia baca atau akan menjumpai pengaruh dan kelezatan dalam hatinya, mengais cahaya untuk ruhaninya, dan kelapangan dalam dadanya dengan limpahan (rahmat) dari Allah ta’ala, insya Allah.
4. Dzikir Berjamaah
Terdapat banyak hadits yang mengisyaratkan disunahkannya dzikir berjamaah. Dalam hadits yang ditriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah saw. Bersabda;
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum duduk-duduk (untuk) berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat mengitari mereka, rahmat memayunginya, ketenangan turun kepadanya, dan Allah menyebut-nyebut mereka kepada siapa saja yang berada di sisi-Nya.” (Sunan Abi Daud)
Dan anda akan menjumpai banyak hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah saw. Keluar untuk shalat berjamaah, sementara mereka berdzikir di masjid. Lalu beliau memberikan kabar gembira dan tidak melarang mereka (melakukan hal itu).
Berjamaah dalam ketaatan itu pada dasarnya dianjurkan apabila membuahkan banyak manfaat, seperti: bersatunya hati, menguatkan ikatan, menggunakan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat, dan mengajarkan kepada orang awam yang belum baik dalam belajar serta mengumandangkan syi’ar Allah swt.
Memang berjamaah dalam dzikir itu dilarang, jika dengannya mengakibatkan hal-hal yang terlarang secara syar’i, seperti mengganggu orang shalat, senda gurau dan tertawa, menyelewengkan lafal, mengungguli bacaan yang lain, atau yang sejenisnya. Maka ketika terjadi demikian, dzikir secara jama’i dilarang karena ada kerusakan-kerusakan ini, bukan karena jamaahnya itu sendiri. Khususnya jika dzikir secara jama’i itu dilakukan dengan lafal-lafal dzikir yang ma’tsur dan shahih, sebagaimana dalam wadzifah ini. Maka alangkah baiknya para aktivis Ikhwan sering berkumpul untuk membaca pada pagi dan sore di tempat-tempat berkumpul mereka, atau di masjid, dengan tetap menjauhi hal-hal yang dilarang oleh syari’at. Bagi siapa saja yang tidak bisa berjamaah, hendaknya membaca sendiri, jangan sampai meninggalkannya sama sekali.
2) Diantara hadits Abu Said Al-Khudzri ra., ia berkata,
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلَّ عَنْهُ حَدِيثًا مِنِّي
وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ
“Muawiyah keluar (menuju) sebuah halaqah di masjid. Ia berkata, ‘Apa yang membuat kalian duduk (disini)?’ Mereka menjawab, ‘Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah.’ Muawiyah berkata, ‘Demi Allah, kalian tidak duduk di sini untuk hal itu.’ Mereka menjawab, ‘Demi Allah, kami tidak duduk disini melainkan untuk itu (berdzikir).’ Muawiyah berkata, ‘Saya tidak meminta kalian bersumpah karena ketidakpercayaan saya kepada kalian. Dan tidak ada seorang pun yang setara denganku dimata Rasulullah saw., yang lebih sedikit dariku dalam menukil hadits dari beliau. Dan sesungguhnya Rasul Allah saw. Keluar (menuju) ke sebuah halaqah dari para sahabat, seraya bertanya, ‘Apa yang menjadikan kalian duduk di sini’ Mereka menjawab, ‘Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah, memanjatkan puji dan syukur kepada-nya, karena Dia telah memberikan hidayah kepada kami.’ Rasulullah bersabda, ‘Saya tidak meminta kalian untuk bersumpah karena ketidakpercyaanku kepada kalian. Namun Jibril telah datang kepadaku seraya memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan malaikat.’” (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i)
Khatimah
Amma Ba’du,
Ikhwanul Muslimin mempersembahkan wadzifah ini tidak hanya diperuntukkan bagi mereka saja, tetapi juga untuk seluruh kaum muslimin. Mudah-mudahan ia dapat membantu mereka dalamtaat kepada Allah swt. Dibaca di waktu pagi, dari shubuh hingga zhuhur; dan sore hari, dari Ashar hingga ba’da isya’, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. Barangsiapa melalaikannya, hendaklah tidak meninggalkan sebagiannya, agar tidak terbiasa mengabaikanya.
Sedangkan wirid-wirid Al-Qur’an, untuk dibaca siang dan malam, juga adzkar yang lain, dibaca pada waktunya yang tepat.
Kita memohon kepada Allah-untuk kami dan mereka semuanya-taufik dan hidayah-Nya. Kami juga memohon kepada Allah untuk mereka, kiranya kebaikan do’a-do’a mereka tidak melalaikan kami.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.
Pertengahan Ramadhan, 1355 H
Hassan Al-Banna
Bagian pertama
AL-WADZIFAH
أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syetan yang terkutuk.” 1)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ . إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ . اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasasi hari pembalasan. Hanya kepada-Mulah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalannya orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepadanya; bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.” (Al-Fatihah 1-7)2)
بسم الله الرحمن الرحيم . الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ . وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ . أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
‘Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) itu tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menunaikan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang telah mendapatkan petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqarah: 1-5)3)
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ . لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ . اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapt memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan mengetahui apa-apa yang ada di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat mengurus keduanya. Dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam; sesungguhnya telah jelas yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus dan Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka adalah thaghut, mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.” (Al-Baqarah 255-257)
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ . لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada di langit dan ada di bumi. Jika kamu melahirkan apa yang ada ddalam harimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang di kehendaki-Nya dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Rasul telah beriman kepada AL-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,’ dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat.’ (mereka berdoa), “Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan Engkaulah tempat kembali.’ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, jangnalah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, Engkau Penolong kami, maka tolonglah terhadap kaum yang kafir.” (Al-Baqarah: 284-286)
بسم الله الرحمن الرحيم الم. اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Alif Lam Mim. Allah tiada Tuhan melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri.” (Al-Imran: 1-2) (4)
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا . وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا
“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluknya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang-orang yang melakukan kezhaliman, dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang shalih dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (Toha: 111-112)
حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (At-Taubah: 129) (dibaca tujuh kali)5)
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا . وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
‘Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama mana saja kamu seru. Dia mempunyai asmaul husna (nama-nama yang terbaik), janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula kamu merendahkannya dan carilah jalan tengan di antara keduannya itu.’ Katakanlah, ‘Segala puji bagi kerajaan-Nya, dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan pengangung yang sebesar-besarnya.” (Al-Isra’: 110-111)6)
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ . فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ . وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ . وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
‘Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan kamu tidak dikembalikan kepada kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya, tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang mempunyai ‘Arsy yang mulia. Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada sesuatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak beruntung. Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah pemberi rahmat yang baik.” (Al-Mukminun: 115-118) (7)
فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ . وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ. يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ . وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ. وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ. وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ . وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ . وَمِنْ آَيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ. وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ . وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ
“Maka bertasbilahlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan di waktu kamu berada di waktu shubuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hati dan di waktu kamu berada di waktu zhuhur. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan sepeti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan jadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kau yang berpikir. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lain bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah tidurmu diwaktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengar. Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akal. Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekalian panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk.” (Ar-Rum: 17-26) (8)
حم . تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ . غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ
“Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ha Mim. Diturunkan kitab (Al-Qur’an) dari Allah yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukum-Nya, yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluknya).” (Al-Mukmin: 1-3)9)
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ . هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ . هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja yang Mahasuci, yang Mahasejahtera, yang Mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, yang Mahaperkasa, yang Mahaesa, yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka mempersekutukan. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang Mmbentuk rupa, yang Mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbilah kepada-Nya apa yang di langit dan apa yang di bumi. Dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Hasyr: 22-24)10)
بسم الله الرحمن الرحيم . إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا. وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا. وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا . يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا. بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا . يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ . فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi )jadi begini). Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kapadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarah pun, niscaya dia melihat (balasan)nya pula .” (Az-Zalzalah: 1-8)11)
بسم الله الرحمن الرحيم. قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ . لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
‘Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kau sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak akan menjadi penyembah apa yang kau sembah, dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.’” (Al-Kafirun: 1-6)12)
بسم الله الرحمن الرحيم. إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ . وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا . فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
“Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (An-Nashr: 1-3)13)
بسم الله الرحمن الرحيم. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Dialah Allah yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan, dan tiada seorang pun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlas: 1-3) (tiga kali)
بسم الله الرحمن الرحيم. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dengan menyebut nama asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai shubuh dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukanh sihir yang menghembuskan pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang-orang yang dengki apabila ia dengki.” (Al-Falaq: 1-5) (tiga kali)
بسم الله الرحمن الرحيم. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ . مَلِكِ النَّاسِ . إِلَهِ النَّاسِ . مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ . الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ . مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
“Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa tersembunyi, yang membisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.” (An-Nas: 1-6) (tiga kali) (14)
أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الُمُلْكُ للهِ وَالْحَمْدُ للهِ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ / الْمَصِيْرُ
‘Kami berpagi hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada Tuhan melainkan Dia, dan pada-Nya tempat kembali.” (tiga kali)15)
أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ وَعَلَى كَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ
‘Kami berpagi hari diatas fitrah Islam, di atas kata keikhlasan, di atas agama Nabi Kami; Muhammad saw., dan di atas millah bapak kami: Ibrahim yang hanif. Dan ia bukan termasuk golongan orang-orang yang musyrik.” (tiga kali)16)
اللَّهُمَّ إِنِّى أَصْبَحْتُ مِنْكَ فِى نِعْمَةٍ وَعَافِيَةٍ وَسِتْرٍ فَأَتِمَّ عَلَيَّ نِعْمَتَكَ وَعَافِيَتَكَ وَسِتْرَكَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berpagi hari dari-Mu dalam kenikmatan, kesehatan, dan perlindungan. Maka sempurnakanlah untukku kenikmatan, kesehatan, dan perlindungan-Mu itu, di dunia dan akhirat.” (tiga kali)17)
اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ
“Ya Allah, kenikmatan yang aku atau salah seorang dari makhluk-Mu, berpagi hari dengannya, adalah dari-Mu semata; tiada sekutu bagi-Mu. Maka bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu rasa syukur.” (tiga kali)18)
يَا رَبِّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ
“Ya Rabbi, bagi-Mu segala puji sebagaimana seyogyanya; bagi kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.” (tiga kali)19)
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا
“Aku rela dengan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.” (tiga kali)20)
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
“Mahasuci dan puji bagi-Nya; sebanyak-banyak bilangan makhluk-Nya, serela diri-Nya, setimbangan ‘Arasy-Nya dan sebanyak tinta (bagi) kata-kata-Nya.” (tiga kali)21)
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dengan nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak selaka segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi maha Mengetahui.” (tiga kali)22)
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami mohon ampun kepada-Mu untuk sesuatu yang tidak kami ketahui.” (tihga kali)23)
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari keburukan yang Dia ciptakan.” (tiga kali)24)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang, dan kesewenang-wenangan orang.” (tiga kali)25)
اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي
“Ya Allah, sehatkanlah badanku; Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku; Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku;
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran; Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur. Tiada Tuhan kecuali Engkau.” (tiga kali)26)
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan kecuali Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Berada di atas janji-Mu, semampuku. Aku mohon perlindungan dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui banyaknya nikmat (yang Engkau anugerahkan) kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau.” (tiga kali)27)
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku mohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, yang Mahahidup kekal dan senantiasa mengurus (makhluk-Nya) dan aku bertaubat kepada-Nya.” (tiga kali)28)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
“Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Berilah barakah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Di alam ini, Engkaulah yang Maha Terpuji lagi Mahamulia.” (sepuluh kali)29)
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Mahabesar.” (seratus kali)30)
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Tiada Tuhan melainkan Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, Dia berkuasa atas segala sesuatu.” (sepuluh kali)31)
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Mahasuci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” (tiga kali)32)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ عَدَدَ مَا أَحَاطَ بِهِ عِلْمُكَ وَخَطَّ بِهِ قَلَمُكَ وَأَحْصَاهُ كِتَابُكَ وَارْضَى اللَّهُمَّ عَنْ سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
“Ya Allah berilah shalawat kepada Nabi Muhammad; hamba-Mu, Nabi-Mu, dan Rasul-Mu, Nabi yang ummi. Juga kepada keluarga dan para sahabatnya, serta berilah keselamatan sebanyak yang terjangkau oleh ilmu-Mu; yang tergores oleh pena-Mu; dan yang terangkum oleh kitab-Mu. Ridhailah-ya Allah-para pemimpin kami: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta semua sahabat, semua tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari Pembalasan.”
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Maha suci Tuhanmu, Tuhan kemuliaan dari apa-apa yang mereka sifatkan. Keselamatan semoga tercurah kepada para utusan dan segala puji bagi Allah. Tuhan sekalian alam.”33)
WADZIFAH SHUGHRA
Jika seorang akh mendapatkan waktunya sempit atau tengah terjadi degradasi keimanan (futur) pada dirinya, atau pada saudaranya yang lain jika dibaca bersama mereka, maka hendaklah ia meringkas seperti berikut ini:
Bacalah isti’adzah, Al-Fatihah, ayat kursi, tiga ayat terakhir Al-Baqarah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing tiga kali. Kemudian bacalah dzikir dan doa yang telah disebutkan di atas, sampai istighfar yang terakhir.
Lalu ikutlah secara langsung dengan istighfar dengan sighat. Demikianlah hingga akhir wadzifah.
________________________________________________________________
1) Allah swt. berfirman, “Maka jika kamu membaca Al-Qur’an, mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dari Anas ra. dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa di waktu pagi mengatakan: a’udzubillahis sami’il alim…., dia akan dibebaskan dari gangguan syetan hingga sore.”
2) Hadits Ubai bin Ka’ab ra. menceritakan, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah diturunkan dalam Taurat, Zabur, Injil, atau Furqan yang se-banding dengan Al-Fatihah. Sesungguhnya ia merupakan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Qur’an yang agung yang di-anugerahkan kepadaku.” (HR. Tirmidzi dan ia mengatakan, “Hadits hasan shahih.” Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya dengan sanad dari Ubay bin Ka’ab dari Nabi saw. bahwa beliau saw. bersabda, ‘Setiap pekerjaan yang bermanfaat yang tidak dimulai dengan ‘Bismillahirrahmanirrahim’, maka perkara itu terputus.” Artinya, amal itu sedikit nilai berkahnya.
3) Diriwayatkan oleh Ad-Darami dan Al-Baihaqi dalam Asy Syu’ab dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa dia berkata, “Barangsiapa membaca sepuluh ayat dari surat Al-Baqarah di permulaaan siang, maka ia tidak akan didekati oleh syetan sampai sore. Dan jika membacanya sore hari, maka ia tidak akan didekati oleh syetan sampai pagi dan ia tidak akan melihat sesuatu yang dibenci pada keluarga dan hartanya”. Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan Al-Hakim dalam Shahih-nya, dari Ibnu Mas’ud ra., Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa membaca sepuluh ayat; empat ayat dari awal aurat Al-Baqarah, ayat kursi dan dua ayat sesudahnya serta ayat-ayat terakhir dari Al-Baqarah tersebut, maka rumahnya tidak akan di-masuki oleh syetan sampai pagi. ”
4) Dari Al-Qasim bin Abdurrahman ra., dari Nabi saw. bahwa asma Allah yang agung itu ada pada tiga surat dalam Al-Qur’an yakni: surat Al-Baqarah, Ali Imran, dan surat Thaha. Al-Qasim berkata, “Kemudian aku mencarinya, maka aku mendapatkan pada surat Al-Baqarah adalah ayat (kursi), “allahu Ia ilaha illa huwal hayyul qayyum”, pada surat Ali Imran adalah ayat, “alif lam mim, allahu Ia ilaha illah huwal hayyul qayyum”, dan pada surat Thaha adalah ayat, ‘wa ‘analil wujuhu ill hayyil qayyum.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dan belum dikomentari oleh Adz-Dzahabi
5) Dari Abu Darda ra. dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa di waktu pagi atau sore membaca: hasbiyallahu …. tujuh kali, maka Allah akan mencukupi apa yang diinginkan dari perkara dunia dan akhirat.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dan Ibmt Asakir secara marfu’ Diriwayatkan pula Oleh Abu Dawud dan secara mauquf oleh Abu Darda’
6) Dari Abu Musa Al-Asy’ari ia. berkata bahwa Rasulullah saw. : “Barangsiapa pada waktu pagi dan sore membaca: qulid’ullaha awid’urrahman sampai akhir ayat, maka hatinya tidak akan mati pada hari dan malam itu (Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Dilami dalam kitab Musna Al-Firdaus)
7) Dari Muhammad bil Ibrahim At-Taimi dari ayahnya berkata, “pada suatu Peperangan Rasulullah saw. memberikan nasehat kepada kami agar membaca: afahasibtum annama khalaqnakum….. dan ayat-ayat berikutnya. Kami pun membacanya. maka kami berhasil memperoleh ke-keselamatan dan keselamatan.” (Hadits diriwayatkan oleh lbnu Sunni, Abu Nu’aim, dan Ibnu Mandah. Al-Hafidz [Ibnu Hajar, Pent.] berkata, “Sanadnya bisa diterima.”)
8) Ibnu Abbas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa ketika pagi membaca: subhanallahi hiina…. sampai pada… wakazalika tukhrajun, maka ia akan menemukan apa-apa yang hilang pada hati itu. Dan barangsiapa membacanya pada sore hari, akan ia menemukan apa yang hilang Pada malamnya (HR. Abu Dawud)
9) Dari Abu Hurairah ra, berkata bahwa telah bersabda Rasulullah saw.,: “Barangsiapa membaca: haa-miim… dalam surat Al-Mukmin sampai ilaihil mashir dan ayat kursi, maka ia akan dipelihara oleh kedua ayat tadi sampai sore dan barangsiapa membacanya Pada sore hari. maka kedua ayat itu akan menjaganya sampai pagi hari . ” Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ad-Darimi, Ibnu Sunni, dan Al-Maruzy)
10) Dari Abu Umamah ra, bahwa beliau saw. bersabda: “Barangsiapa membaca ayat-ayat akhir surat Al-Hasyr pada waktu malam atau siang, maka Allah akan menjamin baginya surga.” (HR. Al-Baihaqi)
11) Dalam hadits riwayat Ibnu Abbas ia. –marfu’- disebutkan bahwa, “idza zulzilat” itu menyamai separo Al-Qur’an.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi Al-Hakim dari hari hadits Yaman Bin Al-Mughirah)
12) Hadits Ibnu Abbas ra., “qul ya ayyuhal kafirun itu menyamai seperempat Al-Qur’an (Hadits riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim. Dia mengatakan, “sanadnya shahih.”)
13) Hadits dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada salah seorang sahabatnya, “Bukankah bersamamu idza ja-a nashrullahi walfathuu?” Sahabat tadi menjawab, “Ya.” Rasulullah saw. bersabda, ” Ia menyamai seperempat Al-Qur’an.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi. Dia mengatan, “ini hadits hasan.”)
14) Dari Abdullah bin Hubaib ra.. ia berkata, “(Suatu ketika) kami keluar pada malam yang gelap gulita dan sedang hujan. Kami meminta kepada Rasulullah saw. agar berkenan mendoakan kami. Maka kami pun menjumpai beliau, lalu beliau bersabda, “Katakanlah saya tidak mengatakan apa-apa. Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah Saya tidak mengatakan apa-apa. Kemudian saya bertanya -Apa yang harus saya katakan, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, -quhuwaallahu ahad dan dua surat perlindungan (Al-Falaq dan An-Nas) tatkala sore dan pagi hari masing-masing tiga kali, niscaya ia sudah mencukupi dari segala sesuatu.” (Hadits riwayat Abu Dawud, Timidzi, dan An-Nasa’i. At-Tirmidzi berkata, “Ini hadits hasan shabih.”)
15) Dari Abu Hurairah ra. berkata, “Rasulullah saw. tatkala pagi hari selalu membaca: asbahna wa-asbahal mulku lillahi… dan ketika sore berkata: amsaina wa-amsal mulku lillahi….”(Hadits riwayat lbnu Sunni dan Al-Bazzar. Al-Baihaqi berkata, “Hadits ini sanadnya baik.”)
16) Dari Ubay bin Ka’ab ra. berkata “Ketika pagi hari Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami untuk membaca: asbahna ala fithratil islam… dan ketika sore hari juga dengan doa yang sama (Hadits riwayat Abdullah bin Imam Ahmad Ibnu Hanbal dalam Zawaid-nya)
17) Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw., ‘Barangsiapa membaca tiga kali: allahumma inni asbahtu mingka maka wajib bagi Allah untuk menyempurnakan nikmat-Nya kepadanya.” (Hadits riwayat Ibnu Sunni)
18) Dari Abdullah bin Ghannam Al-Bayadhi bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ketika pagi membaca: allahumma ma-asbaha bi …., maka sesungguhnya ia telah menunaikan syukur pada hari itu. Dan barangsiapa membacanya ketika sore hari, maka ia telah menunaikan syukur pada malam harinya.” (Hadits riwayat Alyu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya)
19) Dari Abdullah bin Umar ra., bahwasanya Rasululah saw. bercerita kepada mereka tentang seorang hamba dari hamba Allah yang mengatakan: ya rabbi lakal hamdu…. maka dua malaikat merasa berat dan tidak tahu bagaimana harus mencatat (pahalanya). Kemudian keduanya naik ke langit seraya berkata, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya hamba-Mu telah mengatakan satu perkataan yang kami tidak tahu bagaimana mencatat (pahala)-nya,” Allah swt. -Dia Mahatahu apa yang dikatakan hamba-Nya- berfirman, “Apakah yang dikatakan hamba-Ku?” Kedua malaikat menjawab, Sesungguhnya ia mengatakan: ya rabbi lakal hamdu…. Maka Allah swt. berfirman. catatlah pahalanya sebagaimana. Yang diucapkan oleh hamba-Ku tadi sampai ia berjumpa dengan-Ku niscaya Aku akan membalasnya,” (Hadits riwayat Imam Ahmad. Ibnu Majah, dan para perawinya tsiqah)
20) Dari Abi Salam ra. -seorang pelayan Rasulullah- dalam hadits marfu’, ia berkata, saya. mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ketika pagi dan sore mengatakan: radiitu billahi rabba ….., maka adalah wajib bagi Allah untuk meridhainya.” (Hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi An-Nasa’i dan Al-Hakim)
21) Dari Juwairiyah (Ummul Mukminin ra.), Nabi saw. keluar dari sisinya pagi-pagi untuk Shalat shubuh di masjid. Beliau kembali (ke kamar Juwairiyah waktu dhuha, sementara ia masih duduk di sana Lalu Rasulullah saw. bertanya “Engkau masih duduk sebagaimana ketika aku tinggalkan tadi?” Juwairiyah menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh, aku telah mengatakan kepadamu empat kata sebanyak tiga kali, yang seandainya empat kata itu ditimbang dengan apa saja yaag engkau baca sejak tadi tentu akan menyamainya (empat kata itu adalah) yakni: subhanallah wabihamdihi ‘adada khalqihi……” (Hadits riwayat Muslim)
22) Dari Utsmam bin Affan ra. berkata, “Rasulullah saw. bersabda, Tidaklah seorang hamba setiap pagi dan sore membaca: bismillahilladzi layadhurru ….., kecuali bahwa tidak ada sesuatu yang membahayakannya. ” (Hadits riwayat Abu dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih. “)
23) Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra. berkata bahwa suatu hari Rasulullah saw. berkhutbah di hadapan kita, seraya bersabda: “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian kepada syirik, karena sesungguhnya syirik itu lebih lembut daripada binatang semut.” Kemudian berkatalah seseorang kepada beliau, “Bagaimana kita berhati-hati kepadanya wahai Rasul, sementara dia lebih lembut daripada binatang semut?” Rasulullah saw. bersabda, “Katakanlah allhumma inna na’udzubika …..” (Hadits riwayat Ahmad dan Thabrani dengan Sanad yang baik. Juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la sebagaimana hadits tadi dari Khudzaifah, hanya saja Khudzhaifah berkata, “Beliau (Rasulullah saw.) membacanya tiga kali.”)
24) Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa menjelang sore membaca: a’udzubukalimatillahi ….. sebanyak tiga kali, maka tidak akan membahayakan baginya racun yang ada pada malam itu.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya)
25) Dari Abu Sa’id Ak-Khudri ra. berkata, “Suatu hari Rasulullah saw. masuk masjid, tiba-tiba beliau jumpai seorang Anshar yang-bernama Abu Umamah. Rasulullah saw. bertanya, ‘Wahai Abu Umamah, mengapa kamu duduk-duduk di masjid di luar waktu shalat?’ Abu Umamah menjawab, ‘Karena kegalauan Yang melanda hatiku dan hutang-hutangku, wahai Rasulullah.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukankah aku telah megajarimu beberapa bacaan, yang bila kau baca, niscaya Allah akan menghilang rasa galau dari dirimu dan melunasi hutang-hutangmu?’ Abu Umamah berkata ‘Betul, wahai Rasulullah.’ Rasulullah bersabda, ‘Ketika pagi dan sore ucapkanlah: allahumma inni a’udzubika minalhammi wal hazan……’ Kemudian aku melakukan perintah tadi, maka Allah menghilangkan rasa galau dari diriku dan melunasi hutang-hutangku.” (HR. Abu Dawud)
26) Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah ra., dia berkata kepada ayahnya ‘ “Wahai ayahku, sesungguhnya aku mendengar engkau berdoa: allahumma ‘afini fi badani . ……Engkau lakukan itu tiga kali ketika pagi dan tiga kali ketika sore,” Sang ayah berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw berdoa seperti itu, maka aku pun ingin mengikuti sunah beliau.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya)
27) Dari Syaddad bin Aus ra., Nabi saw. bersabda, “Sayyidul istighfar (doa permohonan ampunan yang terbaik) adalah: allahumma anta rabbi Ia-ilaha illaanta khakaqtani….. Barangsiapa membacanya ketika sore hari sembari yakin akan kandungannya, kemudian meninggal pada malam itu, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa membacanya pada pagi hari sembari yakin akan kandungannya kemudian meninggal pada hari itu, maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari dah yang lainnya)
28) Dari Zaid (pelayan Rasulullah saw.) berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang membaca: astaghfirullahalladzi la-ilaha illa huwal hayyu……., Allah akan mengampuninya, meski ia lari dari pertempuran.’ (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Al-Hakim. Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih berdasarkan atas syarah Bukhari dan Muslim.”)
29) Dari Abu Darda’ ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca Shalawat kepadaku sepuluh kali ketika pagi dan sepuluh kali ketika sore, maka ia akan memperoleh syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Thabrani)
30) Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya berkata, “Barangsiapa bertasbih kepada Allah seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka ia seperti orang yang melakukan haji seratus kali. Barangsiapa bertahmid kepada Allah seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka ia seperti orang yang membawa seratus kuda perang untuk berjihad dijalan Allah.Barangsiapa mengucapkan tahlil (ucapan ‘lailaha illallah’) seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka ia seperti memerdekakan seratus budak dari anak cucu Ismail. Barangsiapa mengucapkan takbir (ucapan’Allalm Akbar’) seratus kali di pagi hari dan seratus kali di sore hari, maka Allah tidak akan memberi seseorang melebihi apa yang diberikan kepadanya, kecuali orang itu melakukan hal yang sama atau lebih.” (HR. Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits ini hasan.” An-Nasa’i juga meriwayatkan hadits yang sama)
Dan dari Ummu Hani’ ra., Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Wahai Ummu Hani’, ketika pagi hari bertasbihlah kepada Allah seratus kali, bacalah tahlil Seratus kali, bacalah tahmid seratus kali, dan bertakbirlah seratus kali, maka sesungguhnya seratus tasbih itu (pahalanya) dengan seratus unta yang kau korbankan, dan seratus tahlil itu tidak akan menyisakan dosa sebelumnya dan sesudahnya.” (HR. Thabrani)
31) Dari Abu Ayyub ra., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ketika pagi hari membaca: Ia-ilaaha iliallahu wahdahu Ia-syarika lahu….. sepuluh kali, maka Allah akan mencatat setiap kali itu dengan sepuluh kebaikan dan menghapus sepuluh kejelekan, serta mengangkatnya dengan bacaan tadi sepuluh derajat. Bacaan tadi (pahalanya) bagaikan memerdekakan sepuluh budak, dan ia bagi pembacanya sebagai senajata bagi permulaan siang sampai menjelang sore, serta hari itu ia tidak akan mengerjakan pekerjaan yang akan mengalahkannya. Dan barangsiapa membacanya ketika sore hari, maka ia (pahalanya) seperti itu juga.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Sa’id bi Mansur dan yang lainnya)
32) Dari Jubair bin Muth’im ra- berkata, Rasulullah saw. bersabda “Barangsiapa membaca: subhanalli wabihamdika asy-hadu….pada suatu majelis dzikir maka bacaan ‘Itu seperti stempel Yang dicapkan padanya. Dan barangsiapa mengucapkannya pada forum iseng, maka bacaan itu sebagai kafarat baginya. (HR. An-Nasa’i, Al-Hakim, dan Ath-Thabrani, dan Yang lainnya)
33) Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Kami meriwayatkan dalam kitab Hilyatul Auliya’ dari Ali ra., ‘Barangsiapa suka mendapatkan timbangan kebajikan yang sempurna, maka hendaklan diakhir majelisnya ia membaca: subhana rabbika raabil ‘izzati amma yassifun…
Sumber: http://www.al-ikhwan.net/al-ma’tsurat-3565/comment-page-1/#comment-5897
Kamis, 17 Desember 2009
Andragogi
Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul "The Adult Learner, A Neglected Species" mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa. Sejak saat itulah istilah "Andragogi" makin diperbincangkan oleh berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan.
Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno "aner", dengan akar kata andr- yang berarti laki-laki, bukan anak laki-laki atau orang dewasa, dan agogos yang berarti membimbing atau membina. Disamping itu, ada istilah lain yang sering dipergunakan sebagai perbandingan adalah "pedagogi", yang ditarik dari kata "paid" artinya anak dan "agogos" artinya membimbing atau memimpin. Maka dengan demikian secara harafiah "pedagogi" berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak.
Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau mengajar anak maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Pada awalnya, bahkan hingga sekarang, banyak praktek proses belajar dalam suatu pelatihan yang ditujukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara yang pedagogis. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pelatihan bagi orang dewasa.
Dengan demikian,andragogi secara harafiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training / Teaching).
Asumsi-Asumsi Pokok
Malcolm Knowles dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut:
•Konsep Diri
Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (Self Determination), mampu mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction). Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan psikologis yang dalam agar secara umum menjadi mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang sifatnya sementara.
Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pelatihan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pelatihan.
•Peranan Pengalaman
Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam teknologi pelatihan atau pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan "Experiential Learning Cycle" (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman).
Hal in menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metoda dan teknik kepelatihan. Maka, dalam praktek pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, sekolah lapang, melakukan praktek dan lain sebagainya, yang pada dasarnya berupaya untuk melibatkan peranserta atau partisipasi peserta pelatihan.
•Kesiapan Belajar
Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Pada seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologiknya. Tetapi pada orang dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi.
Hal ini membawa implikasi terhadap materi pembelajaran dalam suatu pelatihan tertentu. Dalam hal ini tentunya materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan peranan sosialnya.
•Orientasi Belajar
Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-olah sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa.
Selain itu, perbedaan asumsi ini disebabkan juga karena adanya perbedaan perspektif waktu. Bagi orang dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu segera. Sedangkan anak, penerapan apa yang dipelajari masih menunggu waktu hingga dia lulus dan sebagainya. Sehingga ada kecenderungan pada anak, bahwa belajar hanya sekedar untuk dapat lulus ujian dan memperoleh sekolah yang lebih tinggi.
Hal ini menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat praktis dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari.
Beberapa Implikasi Untuk Praktek
Dari uraian tersebut di atas telah diperoleh dan disimpulkan beberapa perbedaan teoritis dan asumsi yang mendasari andragogi dan pedagogi (konvensional) yang menimbulkan berbagai implikasi dalam praktek.
Dalam pedagogi atau konvensional, karena berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation) maka implikasi yang timbul pada umumnya peranan guru, pengajar, pembuat kurikulum, evaluator sangat dominan. Pihak murid atau peserta pelatihan lebih banyak bersifat pasif dan menerima. Paulo Freire, menyebutnya sebagai "Sistem Bank" (Banking System). Hal ini dapat terlihat pada hal-hal sebagai berikut:
•Penentuan mengenai materi pengetahuan dan ketrampilan yang perlu disampaikan yang bersifat standard dan kaku.
•Penentuan dan pemilihan prosedur dan mekanisme serta alat yang perlu (metoda & teknik) yang paling efisien untuk menyampaikan materi pembelajaran.
•Pengembangan rencana dan bentuk urutan (sequence) yang standard dan kaku
•Adanya standard evaluasi yang baku untuk menilai tingkat pencapaian hasil belajar dan bersifat kuantitatif yang bersifat untuk mengukur tingkat pengetahuan.
•Adanya batasan waktu yang demikian ketat dalam "menyelesaikan" suatu proses pembelajaran materi pengetahuan dan ketrampilan.
Dalam andragogi, peranan guru, pengajar atau pembimbing yang sering disebut dengan fasilitator adalah mempersiapkan perangkat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar, yang kemudian dikenal dengan pendekatan partisipatif, dalam proses belajar yang melibatkan elemen-elemen:
•Menciptakan iklim dan suasana yang mendukung proses belajar mandiri.
•Menciptakan mekanisme dan prosedur untuk perencanaan bersama dan partisipatif
•Diagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar yang spesifik
•Merumuskan tujuan-tujuan program yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar
•Merencanakan pola pengalaman belajar
•Melakukan dan menggunakan pengalaman belajar ini dengan metoda dan teknik yang memadai.
•Mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis kembali kebutuhan-kebutuhan belajar. Ini adalah model proses.
Oleh karena itu dalam memproses interaksi belajar dalam pelatihan orang dewasa kegiatan dan peranan fasilitator bukanlah memindahkan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta pelatihan. Peranan dan fungsi fasilitator adalah mendorong dan melibatkan seluruh peserta dalam proses interaksi belajar mandiri, yaitu proses belajar untuk memahami permasalahan nyata yang dihadapinya, memahami kebutuhan belajarnya sendiri, dapat merumuskan tujuan belajar, dan mendiagnosis kembali kebutuhan belajarnya sesuai dengan perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Dengan begitu maka tugas dan peranan fasilitator bukanlah memaksakan program atau kurikulum dari atas, dari instansi, dari dinas, yang mereka buat di atas meja terlepas dari kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi.
Langkah-Langkah Pokok Dalam Pelatihan Partisipatif (Andragogi)
Berdasarkan pada implikasi andragogi untuk praktek dalam proses pembelajaran kegiatan pelatihan, maka perlu ditempuh langkah-langkah pokok sebagai berikut:
Menciptakan Iklim Pembelajaran yang Kondusif
Ada beberapa hal pokok yang dapat dilakukan dalam upaya menciptakan dan mengembangkan iklim dan suasana yang kondusif untuk proses pembelajaran, yaitu:
•Pengaturan Lingkungan Fisik
Pengaturan lingkungan fisik merupakan salah satu unsur dimana orang dewasa merasa terbiasa, aman, nyaman dan mudah. Untuk itu perlu dibuat senyaman mungkin:
oPenataan dan peralatan hendaknya disesuaikan dengan kondisi orang dewasa
oAlat peraga dengar dan lihat yang dipergunakan hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik orang dewasa
oPenataan ruangan, pengaturan meja, kursi dan peralatan lainnya hendaknya memungkinkan terjadinya interaksi sosial
•Pengaturan Lingkungan Sosial dan Psikologis
Iklim psikologis hendaknya merupakan salah satu faktor yang membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai dan didukung.
oFasilitator lebih bersifat membantu dan mendukung
oMengembangkan suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan Bina Suasana dan berbagai permainan yang sesuai
oMenciptakan suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut.
oMengembangkan semangat kebersamaan
oMenghindari adanya pengarahan dari "pejabat-pejabat" pemerintah.
oMenyusun kontrak belajar yang disepakati bersama
Diagnosis Kebutuhan Belajar
Dalam andragogi tekanan lebih banyak diberikan pada keterlibatan seluruh warga belajar atau peserta pelatihan di dalam suatu proses melakukan diagnosis kebutuhan belajarnya:
•Melibatkan seluruh pihak terkait (stakeholder) terutama pihak yang terkena dampak langsung atas kegiatan itu
•Membangun dan mengembangkan suatu model kompetensi atau prestasi ideal yang diharapkan
•Menyediakan berbagai pengalaman yang dibutuhkan
•Lakukan perbandingan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang ada, misalkan kompetensi tertentu
Proses Perencanaan
Dalam perencanaan pelatihan hendaknya melibatkan semua pihak terkait, terutama yang akan terkena dampak langsung atas kegiatan pelatihan tersebut. Tampaknya ada suatu "hukum" atau setidak tidaknya suatu kecenderungan dari sifat manusia bahwa mereka akan merasa 'committed' terhadap suatu keputusan apabila mereka terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan:
•Libatkan peserta untuk menyusun rencana pelatihan, baik yang menyangkut penentuan materi pembelajaran, penentuan waktu dan lain-lain
•Temuilah dan diskusikanlah segala hal dengan berbagai pihak terkait menyangkut pelatihan tersebut
•Terjemahkan kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi ke dalam tujuan yang diharapkan dan ke dalam materi pelatihan.
•Tentukan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara pihak terkait siapa melakukan apa dan kapan.
Memformulasikan Tujuan
Setelah menganalisis hasil-hasil identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang ada, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan yang disepakati bersama dalam proses perencanaan partisipatif. Dalam merumuskan tujuan hendaknya dilakukan dalam bentuk deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas.
Mengembangkan Model Umum
Ini merupakan aspek seni dan arsitektural dari perencanaan pelatihan dimana harus disusun secara harmonis antara beberapa kegiatan belajar seperti kegiatan diskusi kelompok besar, kelompok kecil, urutan materi dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentu harus diperhitungkan pula kebutuhan waktu dalam membahas satu persoalan dan penetapan waktu yang sesuai.
Menetapkan Materi dan Teknik Pembelajaran
Dalam menetapkan materi dan metoda atau teknik pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
•Materi pelatihan atau pembelajaran hendaknya ditekankan pada pengalaman-pengalaman nyata dari peserta pelatihan
•Materi pelatihan hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan berorientasi pada aplikasi praktis
•Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya menghindari teknik yang bersifat pemindahan pengetahuan dari fasilitator kepada peserta
•Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya tidak bersifat satu arah namun lebih bersifat partisipatif.
Peranan Evaluasi
Pendekatan evaluasi secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Ada beberapa pokok dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar bagi orang dewasa yakni:
•Evaluasi hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah mengikuti proses pembelajaran / pelatihan
•Sebaiknya evaluasi dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh peserta pelatihan itu sendiri (Self Evaluation)
•Perubahan positif perilaku merupakan tolok ukur keberhasilan
•Ruang lingkup materi evaluasi "ditetapkan bersama secara partisipatif" atau berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat.
•Evaluasi ditujukan untuk menilai efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan program pelatihan yang mencakup kekuatan maupun kelemahan program
•Menilai efektifitas materi yang dibahas dalam kaitannya dengan perubahan sikap dan perilaku.
Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno "aner", dengan akar kata andr- yang berarti laki-laki, bukan anak laki-laki atau orang dewasa, dan agogos yang berarti membimbing atau membina. Disamping itu, ada istilah lain yang sering dipergunakan sebagai perbandingan adalah "pedagogi", yang ditarik dari kata "paid" artinya anak dan "agogos" artinya membimbing atau memimpin. Maka dengan demikian secara harafiah "pedagogi" berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak.
Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau mengajar anak maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Pada awalnya, bahkan hingga sekarang, banyak praktek proses belajar dalam suatu pelatihan yang ditujukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara yang pedagogis. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pelatihan bagi orang dewasa.
Dengan demikian,andragogi secara harafiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training / Teaching).
Asumsi-Asumsi Pokok
Malcolm Knowles dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut:
•Konsep Diri
Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (Self Determination), mampu mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction). Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan psikologis yang dalam agar secara umum menjadi mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang sifatnya sementara.
Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pelatihan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pelatihan.
•Peranan Pengalaman
Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam teknologi pelatihan atau pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan "Experiential Learning Cycle" (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman).
Hal in menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metoda dan teknik kepelatihan. Maka, dalam praktek pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, sekolah lapang, melakukan praktek dan lain sebagainya, yang pada dasarnya berupaya untuk melibatkan peranserta atau partisipasi peserta pelatihan.
•Kesiapan Belajar
Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Pada seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologiknya. Tetapi pada orang dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi.
Hal ini membawa implikasi terhadap materi pembelajaran dalam suatu pelatihan tertentu. Dalam hal ini tentunya materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan peranan sosialnya.
•Orientasi Belajar
Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-olah sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa.
Selain itu, perbedaan asumsi ini disebabkan juga karena adanya perbedaan perspektif waktu. Bagi orang dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu segera. Sedangkan anak, penerapan apa yang dipelajari masih menunggu waktu hingga dia lulus dan sebagainya. Sehingga ada kecenderungan pada anak, bahwa belajar hanya sekedar untuk dapat lulus ujian dan memperoleh sekolah yang lebih tinggi.
Hal ini menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat praktis dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari.
Beberapa Implikasi Untuk Praktek
Dari uraian tersebut di atas telah diperoleh dan disimpulkan beberapa perbedaan teoritis dan asumsi yang mendasari andragogi dan pedagogi (konvensional) yang menimbulkan berbagai implikasi dalam praktek.
Dalam pedagogi atau konvensional, karena berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation) maka implikasi yang timbul pada umumnya peranan guru, pengajar, pembuat kurikulum, evaluator sangat dominan. Pihak murid atau peserta pelatihan lebih banyak bersifat pasif dan menerima. Paulo Freire, menyebutnya sebagai "Sistem Bank" (Banking System). Hal ini dapat terlihat pada hal-hal sebagai berikut:
•Penentuan mengenai materi pengetahuan dan ketrampilan yang perlu disampaikan yang bersifat standard dan kaku.
•Penentuan dan pemilihan prosedur dan mekanisme serta alat yang perlu (metoda & teknik) yang paling efisien untuk menyampaikan materi pembelajaran.
•Pengembangan rencana dan bentuk urutan (sequence) yang standard dan kaku
•Adanya standard evaluasi yang baku untuk menilai tingkat pencapaian hasil belajar dan bersifat kuantitatif yang bersifat untuk mengukur tingkat pengetahuan.
•Adanya batasan waktu yang demikian ketat dalam "menyelesaikan" suatu proses pembelajaran materi pengetahuan dan ketrampilan.
Dalam andragogi, peranan guru, pengajar atau pembimbing yang sering disebut dengan fasilitator adalah mempersiapkan perangkat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar, yang kemudian dikenal dengan pendekatan partisipatif, dalam proses belajar yang melibatkan elemen-elemen:
•Menciptakan iklim dan suasana yang mendukung proses belajar mandiri.
•Menciptakan mekanisme dan prosedur untuk perencanaan bersama dan partisipatif
•Diagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar yang spesifik
•Merumuskan tujuan-tujuan program yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar
•Merencanakan pola pengalaman belajar
•Melakukan dan menggunakan pengalaman belajar ini dengan metoda dan teknik yang memadai.
•Mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis kembali kebutuhan-kebutuhan belajar. Ini adalah model proses.
Oleh karena itu dalam memproses interaksi belajar dalam pelatihan orang dewasa kegiatan dan peranan fasilitator bukanlah memindahkan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta pelatihan. Peranan dan fungsi fasilitator adalah mendorong dan melibatkan seluruh peserta dalam proses interaksi belajar mandiri, yaitu proses belajar untuk memahami permasalahan nyata yang dihadapinya, memahami kebutuhan belajarnya sendiri, dapat merumuskan tujuan belajar, dan mendiagnosis kembali kebutuhan belajarnya sesuai dengan perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Dengan begitu maka tugas dan peranan fasilitator bukanlah memaksakan program atau kurikulum dari atas, dari instansi, dari dinas, yang mereka buat di atas meja terlepas dari kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi.
Langkah-Langkah Pokok Dalam Pelatihan Partisipatif (Andragogi)
Berdasarkan pada implikasi andragogi untuk praktek dalam proses pembelajaran kegiatan pelatihan, maka perlu ditempuh langkah-langkah pokok sebagai berikut:
Menciptakan Iklim Pembelajaran yang Kondusif
Ada beberapa hal pokok yang dapat dilakukan dalam upaya menciptakan dan mengembangkan iklim dan suasana yang kondusif untuk proses pembelajaran, yaitu:
•Pengaturan Lingkungan Fisik
Pengaturan lingkungan fisik merupakan salah satu unsur dimana orang dewasa merasa terbiasa, aman, nyaman dan mudah. Untuk itu perlu dibuat senyaman mungkin:
oPenataan dan peralatan hendaknya disesuaikan dengan kondisi orang dewasa
oAlat peraga dengar dan lihat yang dipergunakan hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik orang dewasa
oPenataan ruangan, pengaturan meja, kursi dan peralatan lainnya hendaknya memungkinkan terjadinya interaksi sosial
•Pengaturan Lingkungan Sosial dan Psikologis
Iklim psikologis hendaknya merupakan salah satu faktor yang membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai dan didukung.
oFasilitator lebih bersifat membantu dan mendukung
oMengembangkan suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan Bina Suasana dan berbagai permainan yang sesuai
oMenciptakan suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut.
oMengembangkan semangat kebersamaan
oMenghindari adanya pengarahan dari "pejabat-pejabat" pemerintah.
oMenyusun kontrak belajar yang disepakati bersama
Diagnosis Kebutuhan Belajar
Dalam andragogi tekanan lebih banyak diberikan pada keterlibatan seluruh warga belajar atau peserta pelatihan di dalam suatu proses melakukan diagnosis kebutuhan belajarnya:
•Melibatkan seluruh pihak terkait (stakeholder) terutama pihak yang terkena dampak langsung atas kegiatan itu
•Membangun dan mengembangkan suatu model kompetensi atau prestasi ideal yang diharapkan
•Menyediakan berbagai pengalaman yang dibutuhkan
•Lakukan perbandingan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang ada, misalkan kompetensi tertentu
Proses Perencanaan
Dalam perencanaan pelatihan hendaknya melibatkan semua pihak terkait, terutama yang akan terkena dampak langsung atas kegiatan pelatihan tersebut. Tampaknya ada suatu "hukum" atau setidak tidaknya suatu kecenderungan dari sifat manusia bahwa mereka akan merasa 'committed' terhadap suatu keputusan apabila mereka terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan:
•Libatkan peserta untuk menyusun rencana pelatihan, baik yang menyangkut penentuan materi pembelajaran, penentuan waktu dan lain-lain
•Temuilah dan diskusikanlah segala hal dengan berbagai pihak terkait menyangkut pelatihan tersebut
•Terjemahkan kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi ke dalam tujuan yang diharapkan dan ke dalam materi pelatihan.
•Tentukan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara pihak terkait siapa melakukan apa dan kapan.
Memformulasikan Tujuan
Setelah menganalisis hasil-hasil identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang ada, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan yang disepakati bersama dalam proses perencanaan partisipatif. Dalam merumuskan tujuan hendaknya dilakukan dalam bentuk deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas.
Mengembangkan Model Umum
Ini merupakan aspek seni dan arsitektural dari perencanaan pelatihan dimana harus disusun secara harmonis antara beberapa kegiatan belajar seperti kegiatan diskusi kelompok besar, kelompok kecil, urutan materi dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentu harus diperhitungkan pula kebutuhan waktu dalam membahas satu persoalan dan penetapan waktu yang sesuai.
Menetapkan Materi dan Teknik Pembelajaran
Dalam menetapkan materi dan metoda atau teknik pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
•Materi pelatihan atau pembelajaran hendaknya ditekankan pada pengalaman-pengalaman nyata dari peserta pelatihan
•Materi pelatihan hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan berorientasi pada aplikasi praktis
•Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya menghindari teknik yang bersifat pemindahan pengetahuan dari fasilitator kepada peserta
•Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya tidak bersifat satu arah namun lebih bersifat partisipatif.
Peranan Evaluasi
Pendekatan evaluasi secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Ada beberapa pokok dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar bagi orang dewasa yakni:
•Evaluasi hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah mengikuti proses pembelajaran / pelatihan
•Sebaiknya evaluasi dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh peserta pelatihan itu sendiri (Self Evaluation)
•Perubahan positif perilaku merupakan tolok ukur keberhasilan
•Ruang lingkup materi evaluasi "ditetapkan bersama secara partisipatif" atau berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat.
•Evaluasi ditujukan untuk menilai efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan program pelatihan yang mencakup kekuatan maupun kelemahan program
•Menilai efektifitas materi yang dibahas dalam kaitannya dengan perubahan sikap dan perilaku.
Kamis, 26 November 2009
Menata Hati dan Pikiran
Hati adalah detakan kehidupan dan alat vital untuk menentukan kehidupan manusia. Hati memiliki alat yang tidak lekang dari nilai. Makanya, segala sesuatu yang dijadikan sebagai sesuatu yang bebas nilai menjadi sebuah pemberi kehidupan dengan warna keresahan. Bukan hanya bagi pemiliknya, tetapi juga bagi semua orang.
Apalagi kita berpikiran bahwa pikiran itu bebas nilai. Berabelah. Begitu kata teman Batak saya. Karena pikiran bebas nilai maka ia akan menjadi liar dan binal. Arahnya akan mengikuti gerakan dan tarikan nafsu. Sungguh begitulah yang terjadi dengan kaum sepilis.
Menata hati dan pikiran agar selalu bernilai itu penting. Agar seluruh aktivitas dan pilihan kita terarah. Bukan hanya memuaskan dahaga intelek emikiran, tatapi mampu meneduhkan hati yang tidak bisa dibohongi. Jangan membawa ilmu dalam alam bebas nilai. Sungguh, itu awal kesesatan dan kerusakan di muka bumi.
Hati-hatilah. Sungguh ini bisa membuat kita menjadi susah. Payah dan merana.
Apalagi kita berpikiran bahwa pikiran itu bebas nilai. Berabelah. Begitu kata teman Batak saya. Karena pikiran bebas nilai maka ia akan menjadi liar dan binal. Arahnya akan mengikuti gerakan dan tarikan nafsu. Sungguh begitulah yang terjadi dengan kaum sepilis.
Menata hati dan pikiran agar selalu bernilai itu penting. Agar seluruh aktivitas dan pilihan kita terarah. Bukan hanya memuaskan dahaga intelek emikiran, tatapi mampu meneduhkan hati yang tidak bisa dibohongi. Jangan membawa ilmu dalam alam bebas nilai. Sungguh, itu awal kesesatan dan kerusakan di muka bumi.
Hati-hatilah. Sungguh ini bisa membuat kita menjadi susah. Payah dan merana.
Minggu, 22 November 2009
Berbuatlah...
Walid bin Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan Al-`Ash bin Wail telah membelanjakan hartanya untuk memerangi risalah dan melawan kebenaran, "Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan." (QS Al-Anfal: 36)
Namun kebanyakan kaum muslimin justru kikir dengan harta mereka, sehingga tidak terbangun menara keutamaan dan tugu keimanan, "Dan, barangsiapa yang kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri." (QS Muhammad: 38)
Demikianlah gambaran tekad kuat para durjana dan kelemahan orang-orang yang bisa dipercaya.
Dalam memoar Golda Mier, mantan Perdana Menteri Israel, yang berjudul Malice, disebutkan bahwa dalam satu fase hidupnya dia harus bekerja selama enam belas jam tanpa istirahat demi mempertahankan prinsip-prinsipnya yang sesat dan pikiran-pikiran yang menyimpang itu, hingga akhirnya berhasil melahirkan negara Israel bersama-sama dengan Ben Gurion. Kalau mau silahkan membaca buku dimaksud.
Saya sendiri sering menyaksikan generasi kaum muslimin yang sama sekali tidak pernah berbuat, meski hanya satu jam saja. Mereka larut dalam main, makan, minum, tidur, dan menghabiskan waktu percuma, Apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, "Berangkatlah (untuk berjuang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu (QS At-Taubah: 38)
Umar adalah sosok yang sangat giat bekerja siang malam. Dia hanya menyempatkan tidur sebentar. Sampai-sampai keluarganya menegurnya, "Engkau tidak tidur?" Tapi teguran itu dijawab oleh Umar, "Jika aku tidur di malam hari maka sia-sialah diriku, dan jika aku tidur di siang hari maka sia-sialah rakyatku."
Dalam memoar seorang tiran, Mose Dayan, yang berjudul The Sword and Rule dituliskan bahwa dia harus terbang dari satu negara ke negara yang lain, dari kota satu ke kota yang lain, siang dan malam, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, harus menghadiri berbagai pertemuan, mengadakan konferensi, mengatur kesepakatan dan perjanjian, dan tak lupa menulis dalam catatannya. Sayang sekali memang, bahwa orang yang lebih pantas menjadi saudara kandung kera dan babi seperti dia, justru bisa menunjukkan keuletan seperti ini. Sebaliknya, kebanyakan kaum muslimin justru menunjukkan kemalasannya. Inilah tekad orang durjana dan kelemahan orang yang bisa dipercaya.
***
Umar bin Khattab telah menyatakan perang terhadap semua bentuk pengangguran, kemalasan, dan ketidakgiatan. Bahkan Umar bin Khattab pernah menarik keluar para pemuda yang diam di dalam mesjid dan tidak melakukan apa-apa. Umar memukul mereka dan berkata, "Keluar kalian, cari rezeki. Langit tidak akan menurunkan emas dan perak."
Kemalasan dan ketidakgiatan hanya akan melahirkan pikiran-pikiran yang negatif, kesengsaraan, penyakit kejiwaan, kerapuhan jaringan syaraf, keresahan, dan kegundahan. Sedangkan kerja dan semangat akan mendatangkan kegembiraan, suka cita dan kebahagiaan.
Segala kecemasan, keresahan, kegundahan, dan penyakit-penyakit intelektual, syaraf dan jiwa, akan berakhir bila masing-masing kita menjalankan peranannya dalam hidup ini. Sehingga semua lapangan kerja menjadi ramai. Pabrik-pabrik menjadi produktif, tempat-tempat kerja akan sibuk, lembaga-lembaga sosial dan dakwah dibuka kembali, dan pusat-pusat kegiatan budaya dan ilmiah marak di mana-mana. Firman Allah,
"Katakanlah: 'Bekerjalah kamu sekalian'."
"Menyebarlah di permukaan bumi."
"Bersegaralah!"
"Cepat-cepatlah."
Juga sabda Rasulullah, "Sesungguhnya Nabi Allah Daud akan makan dari hasil kerja tangannya."
Al-Rasyid memiliki sebuah buku yang berjudul Shin'atul Hayat (Merancang Kehidupan). Dalam buku ini ia berbicara banyak tentang masalah ini dan menyebutkan bahwa banyak orang yang tidak memainkan peran yang seharusnya mereka perankan dalam kehidupan ini, "Mereka hidup, tapi seperti orang yang sudah mati. Mereka tidak menangkap apa rahasia dibalik kehidupan mereka, mereka tidak melakukan yang terbaik untuk masa depan, umat maupun diri mereka sendiri."
Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang. Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang yang berjihad di jalan Allah. (QS An-Nisa': 94)
Seorang seorang perempuan kulit hitam yan menyapu mesjid Rasulullah telah memainkan perannya dalam kehidupan. Dan, dengan peran yang dia mainkan dia masuk surga.
Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. (QS Al-Baqarah: 221)
Demikian pula budak yang mengerjakan mimbar Rasulullah, telah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dan, dia memperoleh pahala atas apa yang dia lakukan, karena memang bakatnya di dunia pertukangan.
Orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya. (QS At-Taubah: 79)
Namun kebanyakan kaum muslimin justru kikir dengan harta mereka, sehingga tidak terbangun menara keutamaan dan tugu keimanan, "Dan, barangsiapa yang kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri." (QS Muhammad: 38)
Demikianlah gambaran tekad kuat para durjana dan kelemahan orang-orang yang bisa dipercaya.
Dalam memoar Golda Mier, mantan Perdana Menteri Israel, yang berjudul Malice, disebutkan bahwa dalam satu fase hidupnya dia harus bekerja selama enam belas jam tanpa istirahat demi mempertahankan prinsip-prinsipnya yang sesat dan pikiran-pikiran yang menyimpang itu, hingga akhirnya berhasil melahirkan negara Israel bersama-sama dengan Ben Gurion. Kalau mau silahkan membaca buku dimaksud.
Saya sendiri sering menyaksikan generasi kaum muslimin yang sama sekali tidak pernah berbuat, meski hanya satu jam saja. Mereka larut dalam main, makan, minum, tidur, dan menghabiskan waktu percuma, Apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, "Berangkatlah (untuk berjuang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu (QS At-Taubah: 38)
Umar adalah sosok yang sangat giat bekerja siang malam. Dia hanya menyempatkan tidur sebentar. Sampai-sampai keluarganya menegurnya, "Engkau tidak tidur?" Tapi teguran itu dijawab oleh Umar, "Jika aku tidur di malam hari maka sia-sialah diriku, dan jika aku tidur di siang hari maka sia-sialah rakyatku."
Dalam memoar seorang tiran, Mose Dayan, yang berjudul The Sword and Rule dituliskan bahwa dia harus terbang dari satu negara ke negara yang lain, dari kota satu ke kota yang lain, siang dan malam, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, harus menghadiri berbagai pertemuan, mengadakan konferensi, mengatur kesepakatan dan perjanjian, dan tak lupa menulis dalam catatannya. Sayang sekali memang, bahwa orang yang lebih pantas menjadi saudara kandung kera dan babi seperti dia, justru bisa menunjukkan keuletan seperti ini. Sebaliknya, kebanyakan kaum muslimin justru menunjukkan kemalasannya. Inilah tekad orang durjana dan kelemahan orang yang bisa dipercaya.
***
Umar bin Khattab telah menyatakan perang terhadap semua bentuk pengangguran, kemalasan, dan ketidakgiatan. Bahkan Umar bin Khattab pernah menarik keluar para pemuda yang diam di dalam mesjid dan tidak melakukan apa-apa. Umar memukul mereka dan berkata, "Keluar kalian, cari rezeki. Langit tidak akan menurunkan emas dan perak."
Kemalasan dan ketidakgiatan hanya akan melahirkan pikiran-pikiran yang negatif, kesengsaraan, penyakit kejiwaan, kerapuhan jaringan syaraf, keresahan, dan kegundahan. Sedangkan kerja dan semangat akan mendatangkan kegembiraan, suka cita dan kebahagiaan.
Segala kecemasan, keresahan, kegundahan, dan penyakit-penyakit intelektual, syaraf dan jiwa, akan berakhir bila masing-masing kita menjalankan peranannya dalam hidup ini. Sehingga semua lapangan kerja menjadi ramai. Pabrik-pabrik menjadi produktif, tempat-tempat kerja akan sibuk, lembaga-lembaga sosial dan dakwah dibuka kembali, dan pusat-pusat kegiatan budaya dan ilmiah marak di mana-mana. Firman Allah,
"Katakanlah: 'Bekerjalah kamu sekalian'."
"Menyebarlah di permukaan bumi."
"Bersegaralah!"
"Cepat-cepatlah."
Juga sabda Rasulullah, "Sesungguhnya Nabi Allah Daud akan makan dari hasil kerja tangannya."
Al-Rasyid memiliki sebuah buku yang berjudul Shin'atul Hayat (Merancang Kehidupan). Dalam buku ini ia berbicara banyak tentang masalah ini dan menyebutkan bahwa banyak orang yang tidak memainkan peran yang seharusnya mereka perankan dalam kehidupan ini, "Mereka hidup, tapi seperti orang yang sudah mati. Mereka tidak menangkap apa rahasia dibalik kehidupan mereka, mereka tidak melakukan yang terbaik untuk masa depan, umat maupun diri mereka sendiri."
Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang. Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang yang berjihad di jalan Allah. (QS An-Nisa': 94)
Seorang seorang perempuan kulit hitam yan menyapu mesjid Rasulullah telah memainkan perannya dalam kehidupan. Dan, dengan peran yang dia mainkan dia masuk surga.
Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. (QS Al-Baqarah: 221)
Demikian pula budak yang mengerjakan mimbar Rasulullah, telah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dan, dia memperoleh pahala atas apa yang dia lakukan, karena memang bakatnya di dunia pertukangan.
Orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya. (QS At-Taubah: 79)
Langganan:
Postingan (Atom)